19 C Jakarta
Wednesday 28th February 2024
By SamAzhar

Posisi Perempuan dan Media Sosial dalam Membentuk Cerminan Keluarga Bahagia

Bila diibaratkan media sosial itu bagai dua kutub magnet. Bermuatan positif dan negatif. Alih-alih bermanfaat, banyak orang yang kadung menilai dari sisi negatifnya. Seperti mengganggu produktifitas dalam bekerja, menimbulkan ketergantungan, mengurangi interaksi sosial secara langsung bahkan sampai tindakan bullying, hoax dan ujaran kebencian. 

Kenapa sih masih menjadi polemik? Pada dasarnya, efek dari penggunaan media sosial sangatlah subjektif dan tergantung pada siapa dan bagaimana menggunakan sarana satu ini sehingga menimbulkan efek yang bervariasi bagi penggunanya; termasuk efek negatif yang disebutkan di atas. Media sosial hanyalah platform yang dihasilkan oleh teknologi agar setiap orang saling berinteraksi, menyebarkan berita atau membagikan momen atau sekedar menjadi penyalur informasi momen terkini. Subjektifitas inilah yang mempengaruhi bagaimana manfaat cenderung dirasakan oleh para wanita. 

Jadi, apakah media sosial bagi perempuan itu bermanfaat?

Faktanya secara psikologis, perempuan dan laki-laki memiliki penerimaan dan reaksi yang berbeda terhadap stress. Banyak studi menyebutkan jika penggunaan sosial media dapat mengurangi stress bagi perempuan. Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa perempuan yang menggunakan media sosial merasakan tingkat stress yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak atau hanya sedikit menggunakan media sosial. Kok bisa?

Perempuan memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menyalurkan emosi mereka kepada banyak orang. Sebagai platform komunikasi, penggunaan media sosial untuk menyalurkan emosi atau menyebarkan momen menyenangkan atau menyedihkan terbukti membantu meringankan stress perempuan. Kegiatan seperti meng-update status, mengirim pesan pendek atau gambar secara instan membantu perempuan untuk mengelola stressnya. Hal-hal semacam inilah yang lebih berpengaruh pada perempuan dibanding laki-laki dan bersifat positif pada perempuan.

Bagi teman-teman yang senang memperbarui informasi via medsos, kebiasaan ini memang aktifitas yang menyenangkan dan tidak ada salahnya kalau jadi kebiasaan. Namun, hendaknya juga jika informasi atau konten yang kalian sebarkan merupakan hal yang positif dan masih dalam koridor yang benar.

Betapa pentingnya saring sebelum sharing. Selalu ingat jarimu adalah harimaumu. Untuk itulah diadakan Seminar Sehari Pengarusutamaan Gender yang bertajuk Perempuan dan Media Sosial: Peran Perempuan Menghadapi Pengaruh Media Sosial dan Menjaga Ketahanan Keluarga yang berlangsung Kamis (17/10) bertempat di Auditorium KH M Rasjidi Kemenag RI, Thamrin Jakpus.

Acara dibuka oleh Prof. Dr. H. Muhammadiyah Amin, MA selaku Dirjen Bimas Islam Kemenag  RI dan menghadirkan pemateri ahli di bidangnya diantaranya:

1. Prof. Dr. Henry Subiakto, Staf Ahli Kemkominfo Bidang Hukum
2. Erik Mubarok, Praktisi Media Sosial
3. Trisna Willy Lukman Hakim S yang merupakan istri dari Menteri Agama kabinet kerja jilid pertama sekaligus penasihat Dharma Wanita Kemenag RI.
4. Rahmi Dahnan pemimpin majlis ta’lim dan seorang Psikologi Anak dan Keluarga.


Hal yang perlu diwaspadai dan menjadi salah satu ancaman terbesar di Indonesia adalah penyebaran konten negatif melalui internet seperti penyebaran pornografi dan paham radikalisme. Banyak dampak yang ditimbulkan akibat pornografi yaitu pelecehan seksual, perilaku seks bebas, seks di usia dini, LGBT, aborsi dan tindakan menyimpang lainnya.

Untuk melindungi anak-anak dari bahayanya terpapar konten tidak senonoh tersebut lantas tidak bisa menggantungkan sepenuhnya hanya kepada aplikasi. Beberapa fenomena yang terjadi sekarang ini adalah;



Pertama, anak sudah memiliki atau memegang gadget sebelum kemampuan berpikirnya berkembang.

Kedua, orang tua yang terlalu abai membiarkan anak bermain gadget sendirian.

Ketiga, saat anak berkumpul dengan teman sebaya mereka saling bagi games dan informasinya. 

Pengasuhan itu membentuk kebiasaan dan meninggalkan kenangan. Membekas hingga tua. Pilihan ada di tangan kita, tinggal ingin dikenang sebagai orang tua yang bagaimana? Atau diingat sebagai apa oleh anak-anaknya kelak? Saatnya perempuan berperan dalam mengedukasi serta memberikan informasi tentang bijak bersosmed dalam lingkup keluarga maupun masyarakat sekitar.

Anak menyerap kondisi kehidupan orang tua di setiap detiknya momen tersebut. Tak seorangpun yang dapat menyamai pengaruh orang tua. Oleh sebab itu alangkah baiknya untuk selalu mengajarkan kepada mereka bagaimana bermedia sosial secara lebih bijaksana, ajakan mengobrol dan membahas isu-isu kekinian (current issues), mengembangkan keterampilan dan berpikir secara kritis (critical thinking), saling mengingatkan antara orang tua dan anak satu sama lain.

Selalu memperhatikan dan menemani anak-anak dalam bermain gawai. Sebagai orang tua harus terlibat langsung, mendampingi dan membantunya memillih konten atau aplikasi yang baik, mengatur dan menonton TV mereka serta ajak bicara bertatap muka secara langsung. Karena waktu bersama keluarga merupakan faktor sangat penting yang dapat membantu dan membentuk ikatan kuat antara koneksi cinta dan hubungan di antara anggota keluarga.
  • No Comments
  • October 25, 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *