19 C Jakarta
Friday 14th June 2024
By SamAzhar

Peranan Dukungan Sehat Jiwa dalam Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2019

Memiliki keluarga kecil bahagia pastilah
dambaan setiap orang. Segalanya merupakan pilihan, apakah kita akan
mengarunginya dengan rasa bahagia atau penuh dengan rasa jengkel. Hal ini yang
harus dihadapi oleh Marlo karakter utama dalam film Tully, sebuah drama
komedi yang tayang pada tahun 2018 dimana mengisahkan tentang peran Ibu Rumah
Tangga yang mengalami depresi hebat.
Dengan memiliki dua anak yang lucu
ternyata belum membuat Marlo terlihat happy.
Apalagi ketika dia sedang mengandung anak ketiga. Suaminya, Drew lebih banyak
sibuk dengan pekerjaannya sehingga waktu untuk keluarganya menjadi berkurang.
Marlo sejak pagi harus mengantarkan anak-anaknya sekolah dan seperti tidak
pernah lepas dari rutinitas Ibu rumah tangganya. Raut wajah cerianya seketika
tertutupi banyak beban dan mengisyaratkan stress
yang begitu dalam.

Beruntung Marlo memiliki kakak
laki-laki yang mengerti permasalahan yang sedang dihadapinya. Craig menangkap
perasaan yang dipendam Marlo selama ini dengan cepat. Craig menyarankan Marlo
untuk menyewa jasa seorang pengasuh bayi supaya meringankan pekerjaannya selama
di rumah. Apalagi Marlo yang segera melahirkan anak ketiganya. Sayangnya Marlo
belum sepenuhnya percaya begitu saja dengan orang lain. Pikirnya anggota keluarga
harus selalu bersama, melindungi dan saling merawat satu sama lain.

 

Ketika anak ketiganya lahir, Marlo
mulai kerepotan. Rasa lelah terus membayangi dirinya baik secara fisik dan
jiwa. Marlo mulai jengah. Sehingga tidak bisa menolak untuk menerima usulan
dari kakaknya, yaitu menyewa seorang nanny.
Sampai akhirnya sosok Tully datang dan kemudian mulai mengubah pandangan hidup
Marlo. Bagi dirinya Tully merupakan sosok pengasuh yang berbeda dari pengasuh
pada umumnya. Singkat cerita, kenyataannya Tully hanyalah sosok bayangan Marlo
sewaktu dirinya masih gadis dan hidup bebas tanpa beban dan ikatan. Dia hanya
berhalusinasi jika keberadaan Tully itu seolah-olah tampak nyata menemaninya.
Di sini peran seorang Ibu rumah tangga sebagai pengurus keluarga dipertaruhkan.
Ternyata Tully mengalami depresi berat hingga akhirnya tidak sadarkan diri
dalam sebuah kecelakaan tunggal di jalan raya dan dilarikan ke rumah sakit.
Sempat berpikir di dalam hati, ku
kira cerita seperti ini hanya ada di film lho. Tapi ternyata banyak dialami di
dunia nyata terutama bagi para Ibu di seluruh dunia. Profesi IRT tidaklah
mudah. Walau kelihatannya banyak menyibukkan kegiatan di rumah tetapi jujur
mereka itu luar biasa. Apalagi dengan kondisi setelah mereka melahirkan.
Pastilah mengalami kelemahan baik secara fisik ataupun mentalnya. Bukan hal
yang mustahil kondisi Ibu paska melahirkan akan down dan menjadi tidak stabil.
 
Oia, menyambung film di atas tadi jadi ingat kalau Hari Kesehatan Jiwa Sedunia
diperingati setiap tanggal 10 Oktober sejak tahun 1992. Dalam rangka memperingati
HKJS, 10 Oktober 2019 Kemenkes RI dalam hal ini mengusung tema “Mental Health Promotion and Suicidie
Prevention”
, Suicidal
Behaviour”
yang telah dikenali sepanjang sejarah peradaban manusia.
Akan tetapi prevalensinya semakin meningkat. Dalam kurun waktu 1 dasawarsa
terakhir saja telah mencapai angka yang memprihatinkan. Data WHO menyebutkan
lebih dari 800 ribu orang meninggal setiap tahunnya karena bunuh diri. Hal ini tak
pelak diawali dengan gangguan kesehatan jiwa seseorang.

Untuk itulah dalam rangka memberikan
pemahaman akan bahayanya bunuh diri kepada masyarakat, Biro Komunikasi dan
Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI khususnya Direktorat P2 Kesehatan
Jiwa dan Napza Direktorat P2P Kemenkes RI menyelenggarakan Temu Blogger
Kesehatan dengan melibatkan komunitas pegiat sosial media pada Rabu (9/10) yang
berlokasi di Ruang Naranta, Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes
RI, Kuningan Jaksel. Event menarik sekaligus langka tersebut turut mengundang
beberapa narasumber ahli yang kompeten di bidangnya masing-masing. Pada
kesempatan tersebut dihadiri oleh Direktur Keswa dan Napza dr Fidiansyah, SpKJ,
Novy Yulianti sebagai Penggerak dari Motherhope Indonesia serta Dr.
Indria Laksmi Gamayanti, M.Si., perwakilan dari Ikatan Psikologi Klinis
Indonesia.
 

Sama
halnya seperti yang dialami oleh Mbak Novi yang juga merupakan seorang
psikolog. Bukan berarti kebal  atau tidak pernah mengalami gejala-gejala
yang berhubungan dengan penyakit jiwa. Psikolog pun manusia biasa yang bisa
saja memiliki pengalaman yang tidak mengenakan terkait kesehatan mental.

Sejak tahun 2013 paska melahirkan pemilik nama
lengkap Novy Yulianty ini pernah mengalami depresi berat yang disebut dengan Postpartum Depression. Barulah pada
tahun 2015 setelah buah hatinya menginjak 2 tahun ia akhirnya baru merasa
bahagia menjadi seorang Ibu. Dahulu sewaktu melahirkan secara cesar terlihat kaget, syok dan mengalami
Baby Blues Syndrome. Beliau
menunjukkan banyak gejala-gejala, misalnya seperti kesedihan yang mendalam,
merasa tidak berguna dan payah menjalani profesinya sebagai Ibu baru,
menurunnya konsentrasi, terganggunya kualitas tidur, malu dan cemas ketika
dikunjungi oleh orang lain bahkan fatalnya lagi sampai ingin mengakhiri
hidupnya.
Ketika Mbak Novy menjadi pemateri mengatakan ada
banyak faktor yang menjadi penyebab depresi paska persalinan. Pertama faktor
fisik dan yang kedua adalah psikologis. Faktor fisik meliputi perubahan fisik
yang terjadi selama kehamilan, meningkatnya hormon, bertambah berat badan,
pengalaman pms yang cukup parah, keguguran hingga kelelahan hebat. Sementara
itu dari sisi psikologis, mereka mengalami riwayat kecemasan sewaktu hamil,
ketidakmampuannya dalam menghadapi stress, stress yang berhubungan dengan
perannya sebagai Ibu hingga riwayat keluarga yang pernah mengalami stress atau
depresi berat.
Beruntung beliau mengenal Motherhope Indonesia.
Melalui misinya yang berperan aktif dalam memberikan dukungan kepada Ibu hamil,
bersalin, nifas dan menyusui. Kemudian meningkatkan kesadaran Ibu, keluarga dan
masyarakat mengenai pentingnya kesehatan jiwa bagi Ibu selama kehamilan, nifas,
dan menyusui. Menghilangkan stigma masyarakat terhadap gangguan kesehatan jiwa
pada Ibu selama masa hamil, bersalin, nifas dan menyusui. Kegiatan Motherhope
Indonesia meliputi Seminar, Support Group,
Psikoedukasi dan Homevisit.

Jika tidak ditangani dengan baik malah akan menimbulkan
banyak dampak. Tidak hanya bagi Ibu, anak tapi juga keluarga.

-Bagi sang Ibu; hilangnya kepercayaan diri,
merasa gagal menjadi Ibu, sulit menjalin bonding dengan anak, depresi
berkelanjutan hingga psikosis postpartum, perilaku yang agresif hingga
percobaan bunuh diri.

-Dampak terhadap Anak; gangguan emosional dan
keterlambatan bicara (speech delay),
ikatan bonding anak dengan Ibu berkurang, slow learner dan tak sedikit yang
menjadi korban kekerasan.

-Sudah barang tentu akan berdampak kepada Keluarga;
mulai dari konflik di dalam rumah tangga, dengan keluarga inti ataupun mertua
dan kesulitan finansial.

Jika kita tengok ke belakang, berdasarkan UU
Kesehatan No. 36 Tahun 2009 definisi kesehatan itu adalah keadaan sehat baik
secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang
untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Keempat hal di atas merupakan
unsur kesehatan yang paripurna. Sementara itu kesehatan jiwa itu adalah kondisi
dimana seorang individu berkembang secara keempat unsur yang sudah disebutkan
tadi sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan,
dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk
komunitasnya. Hal ini tertuang di dalam UU No. 18 tahun 2014 tentang Kesehatan
Jiwa.
Sehat jiwa dimulai dari diri sendiri, keluarga
dan masyarakat. Jadi upaya promotif perlu dilakukan oleh kita semua bukan hanya
tanggung jawab dari tenaga kesehatan. Perlu peran dan partisipasi banyak pihak.
Dalam hal ini tidak hanya pasangan, keluarga terdekat, masyarakat sekitar
hingga pemerintah. Bukan hanya instansi terkait saja seperti Kementerian
Kesehatan tetapi juga Dinas Pendidikan, Agama, Sosial terkait kesehatan jiwa.
Banyak langkah yang dapat kita lakukan untuk meringankan beban mereka dan
menjauhkan para penyi
ntas dari keinginan bunuh diri.

  • No Comments
  • October 18, 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *