By SamAzhar

Jakarta Humanity Festival Rangkul Millenial Menumbuhkan Kembali Rasa Kemanusiaan

jakarta-humanity-festival-2019
Dokumentasi Pribadi
Seringkali kita melihat bentuk kegiatan charity hanya berupa baksos (baca: bakti sosial) saja tapi saya kira kali ini ada cara yang lebih keren untuk menggugah anak muda agar memiliki kepedulian terhadap sesama. Tak perlu menunggu musibah tersebut datang dahulu baru melakukan sesuatu berupa penggalangan dana misalnya, namun spiritnya sudah dapat kita rasakan justru sejak awal tahun. Pada kenyataannya menurut saya kegiatan yang sebenarnya sederhana bisa kok sukses terselenggara. Bukan hal yang mustahil dapat terlaksana selama seharian penuh.

Siapa bilang agenda fundraising melulu kaku, membosankan dan berulang kali seperti itu-itu lagi. Banyak yang berpikir apa bisa acara kemanusiaan dikemas dalam bentuk yang tidak biasa? Bisa dong kenapa ngga. Berangkat dari kreatifitas para millenial untuk millenial lah Jakarta Humanity Festival 2019 digelar.

Berlokasi di Loop Station Jakarta yang terletak di Jalan Mahakam, Blok M bilangan Jaksel event Jakhumfest diadakan Minggu (27/1) pada pagi hingga malam hari dan berhasil menarik minat atensi pengunjung baik itu didominasi dari kalangan komunitas hingga orang-orang yang sekedar melintas.

Jakarta Humanity Festival lahir sebagai wadah penyemangat untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya merespon isu kemanusiaan di lingkungan sekitar yang terjadi akhir-akhir ini tentunya dengan kebaikan (kindness). Jangan sampai ketidakpedulian, ketidakpekaan, dan kekurangtahuan kita tentang isu sosial menjadi alasan krusial memudarnya hilangnya rasa kemanusiaan.

jakarta-humanity-festival-2019
dokumentasi pribadi

JakHumFest 2019 ini bisa dibilang menjadi ajang kopdar atau bertemunya kalangan muda yang sekarang akrab dengan istilah millenials yang menggeluti passion atau interest terhadap kegiatan sosial, baik itu relawan (volunteer), figur publik (public figure), komunitas, lembaga (institutional), hingga sociopreneur (wirausahawan di bidang sosial) yang saling bertukar informasi seputar semangat kemanusiaan, kepedulian, serta menggagas solusi atas permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan kemanusiaan dengan tujuan sebuah perubahan mengarah ke hal positif (positive changed) di masa depan (in the next futures).

Festival ini merupakan bentuk kampanye awal tahun (annual campaign) yang diinisiasi oleh Dompet Dhuafa sebagai lembaga filantropi yang mengajak kembali untuk saling menebarkan nilai-nilai kebaikan untuk perubahan respon manusia di dalam isu sosial.

Jakhumfest menghadirkan beberapa kegiatan seru yang segmented, di antaranya meliputi:

1. Humanity Exposure: Sesi pameran atau eksibisi yang memajang potret human interest saat situasi tanggap darurat (respon) dan recovery (proses pemulihan) di lokasi yang ditimpa musibah bencana alam. Mulai dari Bencana Gempa di Lombok, Tsunami di Palu-Sigi-Donggala hingga Tsunami di Banten dan Lampung bahkan yang baru-baru ini terjadi bencana Tanah Longsor di Sukabumi, Jawa Barat. Tidak hanya itu saja adapula koleksi dari sisa-sisa barang yang ditemukan di rumah-rumah yang menjadi penyintas bencana berupa peralatan dapur dan mainan anak.

Koleksi Foto dari Lokasi Bencana (dok. Dompet Dhuafa)
2. Workshops: Sesi dimana para peserta memperoleh wadah untuk mengekspresikan kreatifitas yang bermanfaat untuk manusia dan memberikan dampak bagi lingkungan di sekitarnya. Para peserta diajak untuk menghias barang-barang reuse yang bisa didaur ulang (recycle) menjadi barang yang berguna kembali serta diskusi mengenai “Bumi, Hari ini”.

3. HumaniTalk: Sesi yang menjadi ruang bicara untuk berbagi pengalaman, inspirasi, dan pengetahuan tentang isu-isu kemanusiaan. Dipaparkan langsung oleh narasumber dari beberapa praktisi di dunia kerelawanan (volunteerism), lembaga kebencanaan filantropis, sociopreneur, institusi pendidikan hingga melibatkan praktisi media.

4. Sound of Humanity: Ruang suara yang mengajak seluruh audiens untuk menikmati sajian musik dan hiburan namun tetap berefleksi pada rasa kepedulian bagi banyak penyintas bencana yang masih membutuhkan uluran tangan kita bersama. Beberapa pengisi acara yang hadir diantaranya Enau Band, Chiky Fawzi, Hanggini dan ditutup oleh Is Pusakata. Penampilan mereka yang diadakan dari sore hingga malam hari berhasil menyedot perhatian para penonton dan penggemar setia yang hadir menyaksikan di lokasi panggung utama (main stage).

Besar harapan semoga acara seperti ini tidak hanya berhenti sampai di sini. Ide, semangat dan kreatifitas ruh acara tersebut dapat ditularkan oleh yang lain terutama kalangan muda. Sedikit mengutip perkataan Mas Angger dari Relawan Turun Tangan. Saat ini kita harus thinking big (berpikir hal-hal yang besar) tapi bukan berarti hal-hal besar dapat kita mulai atau diselesaikan dari hal yang besar. Apa nih peranan kalian sebagai manusia? Manusia adalah makhluk Alloh SWT yang paling mulia derajatnya. Kita diciptakan dengan hati. Perlu digaribawahi persoalan kemanusiaan itu tentang memanusiakan manusia. Bagaimana sejatinya kita harus menempatkan hati kita sebagai manusia agar menjadi berdaya guna (empowered). Amiin allahuma amiin.
  • No Comments
  • January 29, 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *