19 C Jakarta
Saturday 13th April 2024
By SamAzhar

Tolak Jadi Target, Melindungi Generasi Muda dari Sasaran Empuk Industri Rokok



Sebuah tatanan baru akan
segera kita songsong. Mungkin sebagian malah telah lebih dulu menjalankannya.
Ketimbang berpraduga atau mencurigai hal yang belum jelas asal-usulnya alangkah
baiknya jika kita mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Toh
tak ada salahnya?


“Lebih baik mencegah
daripada mengobati”, sepenggal kalimat pepatah lama.

Corona nama virusnya,
covid-19 penyakit ini dijulukinya. Siapa yang menyangka sih jika hal ini malah
menjadi pandemi dan hidup berdampingan dengan kita? Telah berbulan-bulan sejak
#dirumahsaja apa saja sih yang telah kita lakukan selain bekerja, belajar dan
berkegiatan. Alhamdulillah pula bertepatan dengan bulan suci ramadhan.

Akankah menjadi sia-sia
ikhtiar yang telah kita lakukan dengan berpuasa selama kurang lebih 30 hari?
Selain menahan lapar dan haus juga membekali diri dengan lebih meningkatkan
ketakwaan kepada Illahi Rabbi. Dari segi kesehatan tanpa disadari berpuasa
turut pula mendetoksifikasi organ-organ penting dari dalam tubuh secara
organik. Termasuk membentengi diri untuk tidak menghisap batang nikotin di
jam-jam yang telah ditentukan kecuali memang ingin menyengajakan untuk
membatalkan ibadah puasa. Sangat disayangkan bukan?

Seperti diketahui merokok
masih menjadi sebuah momok. Kebiasaan yang telah mendarah daging sejak lama
bagi penduduk dunia. Sebenarnya akan selalu menjadi masalah yang besar apabila
masyarakat terlanjur membiarkan bahkan merelakan paparan asap yang ditimbulkannya
selama puluhan bahkan hingga ratusan tahun lamanya berhembus begitu saja di
udara.

Padahal kita ketahui bahwa
zat yang terkandung di dalamnya seperti tar dan nikotin sangat berbahaya bagi
kesehatan. Bahkan hingga mengancam keselamatan jiwa seseorang. Ngga perlulah
berkelit baik perokok yang aktif maupun pasif sama saja. Tidak ada bedanya.

Merokok dapat merusak
paru-paru dan organ tubuh lainnya, juga meningkatkan risiko terjangkit berbagai
penyakit lain, termasuk coronavirus atau COVID-19 yang lebih parah. Coronavirus
merupakan salah satu alasan yang tepat untuk berhenti menggunakan tembakau.
Mengapa? Karena dampak COVID-19 dapat lebih parah bagi mereka yang menggunakan
tembakau.

Tolak Manipulasi Industri
Rokok Menyasar Anak dan Remaja



Ternyata oh ternyata selain
bahaya laten merokok dari segi kesehatan yang telah dibeberkan tadi di atas
terdapat juga bahaya lain yang tidak kalah lebih serius ditimbulkannya yaitu
ancaman bagi generasi muda yang sehat dan produktif.

Nah, Sabtu pekan lalu (30/5)
diadakanlah sebuah kegiatan pendahuluan (pre-event) dalam rangka memperingati
Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada tanggal 31 Mei setiap tahunnya.
Pada kesempatan tersebut terselenggara pula sebuah web seminar (webinar) yang
bertajuk “Membedah Fakta Kebohongan Industri Rokok di era Post-Truth” yang
diinisiasi oleh Yayasan Lentera Anak.


Tentunya dengan menghadirkan
para narasumber ahli atau pakar di bidangnya masing-masing. Masih dalam balutan
suasana PSBB seminar pun dilakukan lewat aplikasi zoom meeting. Pemateri yang
mengisi acara webinar dari siang hingga sore hari itu antara lain adalah Mas
Mouhamad Bigwanto selaku TIM Focal Point pada Tobbaco Control Policy Support in
Indonesia SEATCA (South East Asia Tobacco Control Alliance), Mbak Kiki Soewarso
sebagai Communication Specialist pada Tobacco Control Support Center (TCSC –
IAKMI) dan Kak Hariyadi yang menjadi Data & Analyst Officer Lentera Anak
dimana sering terlibat dalam sejumlah kempen di Lentera Anak. Serta tak lupa
puluhan partisipan yang menyimak jalannya kegiatan dari awal hingga akhir
acara.

Kalian tahu ngga kenapa
industri rokok sangat gencar menyasar anak muda sebagai target pemasaran
produknya?

Hal ini disebabkan karena
industri rokok setiap tahun kehilangan sebanyak 240.618 pelanggan setianya
karena meninggal dunia. Angka ini sudah setara dengan 668 orang setiap harinya.
Miris ya?

Jadi industri rokok sangat
berkepentingan terhadap anak muda untuk menjamin keberlangsungan roda usaha
mereka. Sebab anak muda merupakan ceruk pasar masa depan dari industri rokok.

Lalu bagaimana sih strategi
industri rokok dalam memasarkan rokok untuk menjebak anak muda menjadi perokok?
Tanpa kita sadari banyak terjadi manipulasi industri rokok dalam berbagai
bentuk lho di antaranya adalah:

Pertama, industri rokok
mengeluarkan triliunan rupiah setiap tahunnya untuk membuat iklan rokok,
mempromosikan dan memberi sponsor rokok.

Kedua, industri rokok menjual
gaya hidup anak muda yang gaul, keren, gemar bertualang dan macho dalam
pesan-pesan iklannya.

Ketiga, industri rokok
mensponsori figur publik dan influencer untuk menggaet para penggemar fanatik
dan para pengikut (followers) mereka yang utamanya adalah anak muda.


Keempat, industri rokok
mensponsori konser musik, event olahraga dan film yang bertemakan anak muda.

Kelima, sebanyak 85% sekolah
di lima kota di Indonesia dikelilingi oleh iklan rokok dengan jumlah pengiklan
sebanyak 30 merek (sumber: monitoring iklan rokok oleh Yayasan Lentera Anak,
Smoke Free Agents dan YPMA, 2015).

Keenam, industri rokok
mempromosikan harga murah rokok dalan bentuk ketengan melalui baliho, banner,
dan spanduk di jalan protokol, depan minimarket dan toko sembako atau
warung-warung kecil.

Ketujuh, SPG rokok berjualan
di lokasi yang banyak didatangi anak muda dan tidak jarang membagikan rokok
secara gratis.

Pada usia remaja memiliki
sifat khas yakni rasa ingin tahu yang besar, ingin mencoba hal baru, mudah
terpengaruh lingkungannya, dan berani menanggung resiko atas perbuatannya tanpa
didahului pertimbangan matang. Mereka mudah dan rentan dipengaruhi dengan
stimulan-stimulan media. Godaan iklan rokok sebagai produk yang keren, gaul,
dan macho, menanamkan pesan di benak remaja bahwa rokok hal yang normal dan
baik.


Media daring yang sering
diakses para remaja seperti Youtube, Instagram, website berita secara masif
digunakan oleh industri rokok untuk menempatkan iklannya. Sangat mungkin
algoritma yang digunakan media daring sudah dipetakan oleh para pengiklan
rokok.


Remaja yang merokok, akan
tetap merokok setelah melihat iklan rokok di media daring. Sementara yang tidak
merokok tampak ada kemungkinan (besar) untuk merokok setelah melihat iklan
alias terpengaruh dari paparan iklan rokok tersebut.

Sesuai dengan visi dan misi
yang ingin dicapai dimana Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun 2020 bertemakan
“Lindungi Kaum Muda dari Manipulasi Industri dan Cegah dari Konsumsi Rokok dan
Nikotin”.

Jadi pada hakikatnya marilah
bersama-sama kita hindari rokok mulai dari sekarang dan untuk selamanya! Selagi
belum terlambat anak muda harus paham betul mereka adalah target industri rokok
sehingga harus berani melawan cengkeraman setan industri rokok.

Oleh sebab itulah pentingnya
mengedukasi remaja dan anak muda  tentang
niat dan jerat taktik industri rokok misalnya dengan memberdayakan influencer
untuk bergaya hidup sehat (healthy lifestyle). 

Sumber: p2ptm.kemkes.go.id

Generasi muda harus bersatu padu
dan katakan NO pada Rokok dan Tembakau!
Arahkan dan fokus untuk beraktivitas
fisik serta berpedoman pada perilaku CERDIK. Salam Germas!

  • No Comments
  • June 6, 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *