Modem Mifi HKM M22 Mendukung Mobilitas Internet Lancar

Pak Tarno, Pesulap Sampah Berhati Mulia dari Utara Jakarta

Pak Tarno, Menyulap Sampah Menjadi Berkah (dokpri)

"Urip iku Urup"
 

Kiranya kalimat yang berasal dari bahasa Jawa ini memiliki makna istimewa, yang berarti hidup itu harus memberikan cahaya untuk orang lain. Seperti halnya menyalakan obor, kita perlu nyala api untuk menghidupkannya dan perlu sumbu untuk tempatnya dibakar. Ungkapan tersebut rasanya memang tepat dialamatkan pada seseorang yang telah berjasa bagi lingkungan khususnya sebuah kampung di perkotaan tepatnya utara Jakarta.

Jauh sebelum tertata seperti sekarang, dahulu tempat yang ia tinggali seringkali menjadi langganan banjir dan menyisakan tumpukan sampah dimana-mana. Berkat ketekunan dan keikhlasannya sebagai pejuang lingkungan, pemukiman kumuh dan gang sempit disulapnya menjadi kampung hijau nan asri. Mengapa dikatakan demikian? Sebab hampir di seluruh gang di semua RT dalam 1 RW dikelilingi dengan barisan tanaman hijau dan lingkungan yang lebih bersih.


Asyiknya Memetik Hasil Kebun Sendiri Untuk Dimasak
(Foto Panen Bayam Brazil di Atas Media Komposter/ dokpri)

Berkat tangan jeniusnya, siapa sangka persoalan sampah malah mendatangkan berkah. Lewat masalah, ia ciptakan menjadi sebuah peluang. Bermodalkan limbah jadi produk bernilai yang mendatangkan pundi-pundi uang. Mungkin bagi kita yang awam jangankan terpikirkan, membayangkan pun bahkan tidak pernah. Tapi berbeda dengan Pak Tarno, dari sampah disulapnya jadi sesuatu yang bernilai tidak hanya ekonomi tapi berdampak bagi lingkungan sekitar.

Sekilas sepak terjang Pak Tarno menjadi pegiat lingkungan


Pahlawan Lingkungan yang Sebenarnya dari Utara Jakarta 

Mungkin sebagian dari kalian bertanya-tanya, "Apa, Siapa Pak Tarno? Yang pesulap itu bukan?" Kalau sobat berpikir kita sedang membahas Pak Tarno yang punya jargon, "Bimsalaabim jadi apa prok-prok-prok" itu salah orang ya. Hehe. Jadi mari kita luruskan, Pak Guru Tarno biasa ia dikenal oleh warga sekitar, tinggal di pemukiman cukup padat penduduk. Kegiatan beliau dimulai sejak tahun 2009 ketika diminta untuk menularkan semangat dalam mengelola sampah baik itu organik dan anorganik. Hal ini diprakarsai dan diawali dengan pengurus lingkungan dari unit terkecil terlebih dahulu. Hanya sekitar 7-9 orang. Selalu mencari solusi dari masalah yang ada. Learning by doing langsung terjun ke lapangan. 

Lazimnya yang terjadi di tengah masyarakat kita adalah anggapan sampah anorganik dipilah, ditimbang lalu jual. Sedangkan sampah organik dibungkus dengan plastik saja. Sayang sekali hanya cukup terhenti sampai di situ saja dari bank sampah hingga ke pihak pengepul. Nah, berbeda lewat teori Pak Tarno, melalui pemikirannya mengajak orang untuk memilah sampah organik rumah tangga bekas sisa makanan dari buah dan sayuran beliau manfaatkan. Sedangkan sampah yang anorganik, lalu ditimbang, kemudian dikreasikan dan hingga dijual menjadi produk yang memiliki nilai guna. Setelah direplikasi, duplikasi lalu sirkulasi dan nilai sampah jadi berlipatganda.

Beberapa Hasil Komposter dan Tanaman Buah dan Sayuran yang Tumbuh Subur Meski di Lahan Terbatas (dokpri)

Menurut saya sosok Pak Tarno ini menginspirasi. Pembawaan yang santun dan ramah, figur yang humoris serta gemar berbagi tanpa kompromi. Meski awalnya berat untuk dijalani tapi tetap beliau nikmati. Berkat kesungguhan yang gigih dan kerelaan yang tanpa pamrih, sampah organik rumah tangga ia kumpulkan sedikit demi sedikit lalu dengan telaten ia pilah dan diubah menjadi sesuatu yang tepat guna siapa sangka memiliki potensi ke depannya. Komposter dan pupuk cair Ecoenzym adalah contoh wujud hasil produknya.

Saat kami berbincang ketika berkunjung ke rumah Pak Tarno jelas sekali logat bicara yang halus dan santun khas orang Jawa. Rupanya beliau lahir dan dibesarkan di Kulonprogo, Yogyakarta. Berasal dari keluarga sederhana dan tinggal di ibukota hingga akhirnya tidak membuatnya jumawa apalagi lupa tanah kelahirannya. Ajaran budi pekerti keluarga dan modal ilmu pengetahuan yang dibawa selama ini dipelajarinya lalu dipraktikkan di kediaman yang ia tinggali sekarang. Siapa sangka dibangun 3 lantai ke atas dengan luas 150m disulapnya bukan hanya jadi hunian rumah tinggal saja melainkan ia menyebutnya sebagai kebun dan kolam gizi.


Taman Mini di Lantai 2 Rumah Pak Tarno yang Disulap Menjadi Kebun dan Kolam Gizi (dokumentasi pribadi)

Perlahan-lahan secara konsisten di tahun 2010 memulai gerakan penghijauan di sekitar lingkungan. Segala bentuk lomba yang melibatkan penghijauan lingkungan diikuti dimulai dari tingkat RT, RW, Kelurahan dan hingga Kecamatan. Sampai pada tahap kompetisi bersih kotaku dari Media Indonesia pun diikutsertakan. Bersyukur di tahun 2013 Astra masuk dan mulai membina kampung RW 01 Sunterjaya. CSR dari Astra Honda Motor memberikan bantuan berupa modal pembinaan dan peralatan produksi. Biaya tersebut digunakan oleh Pak Tarno untuk merenovasi tempat pembelajaran sehingga mampu menampung orang yang ingin belajar membuat kompos di workshop (bengkel kerja) serta alat dan wadah produksi komposter.

Bengkel Kerja Pak Tarno Tempat Beliau Menciptakan Produk Komposter dan Ecoenzym (dokumentasi pribadi)

Sebetulnya sejak 2014 sudah berencana mundur dari tugas atau profesinya sebagai guru sekolah dasar di salah satu sekolah swasta. Begitu tahun 2015 pilihan keluar dari sekolah tempatnya mengajar tersebut benar-benar diwujudkan. Bukan tanpa alasan beliau memutuskan berhenti mengajar di sekolah, alasannya sudah waktunya yang muda tampil, regenerasi dan memberi kesempatan mereka untuk mengajar. Di sela-sela obrolan Pak Tarno sempat sedikit nyeletuk dan bergurau bahwa anak muda yang menjadi guru tentu masih banyak yang berminat. Lain halnya dengan tukang sampah seperti beliau, jangankan yang muda, yang tua belum tentu mau terjun mengaduk sampah. Kemudian ia fokus mendedikasikan waktunya mengabdi untuk lingkungan. Sejak saat itu undangan demi undangan menjadi narasumber atau pembicara seminar baik di dalam maupun luar kota terus berdatangan.

Setahun kemudian memasuki 2016, barulah kegiatan Pak Tarno ini mulai dilirik dan disambut positif oleh pihak kedinasan terkait seperti Dinas KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). Bak gayung bersambut, Pak Tarno yang merupakan aktivis sekaligus pegiat lingkungan memperoleh nominasi dan bisa bersanding dengan 22 orang calon penerima penghargaan pahlawan lingkungan hidup lainnya kemudian disaring kembali dikerucutkan menjadi 10 orang untuk mendapatkan predikat Kalpataru tingkat provinsi.

Penghargaan prestisius untuk Pak Tarno bukti apresiasi sebagai pahlawan lingkungan 
(Foto: Tropi Kalpataru Tingkat Provinsi 2020 yang diterima oleh Pak Tarno)

Pak Tarno bercerita mungkin ketika itu dewi Fortuna belum berpihak padanya. Usut punya usut setelah diselidiki padahal hanya tinggal sejengkal lagi untuk mengangkat trofi. Namun nasib saja yang belum mujur jadi pihak juri dan penilai belum berhasil sampai dan menyambangi rumahnya. Padahal tipe penilik sudah sampai mushola di ujung jalan dalam mencari alamat rumah beliau. sebab ketika ditanya ke warga sekitar tentang rumah Pak Sutarno dari Utama Composter mereka seperti asing dan tidak paham. Tapi ternyata masyarakat lebih akrab mengenal beliau dengan julukan Pak Tarno Guru. Singkat cerita dan barulah ketika tahun 2020 trofi bergengsi dari Presiden tersebut menghampiri sang pemilik nama lengkap KB Sutarno tersebut.

Memang Tuhan jika sudah berkehendak, jadi maka terjadilah. Kemudian negara api menyerang, pandemi Covid 19 tak bisa terbendung menyebarluas ke seluruh wilayah provinsi tanah air. Alhamdulillah berkat konsep kebun dan kolam gizi yang ia prakarsai diyakini mampu menjadi cadangan kebutuhan makanan selama di rumah aja. Setidaknya sayuran, buah-buahan serta ikan dapat digunakan untuk konsumsi sendiri selama sepekan. Begitu saya tanya apakah Pak Tarno pernah terkena dampak dari penyakit Corona?

Koleksi TOGA/ Tanaman Obat Keluarga yang Dimiliki Pak Tarno

Beliau dengan santai menjawab pernah satu kali dan sempat mengalami perburukan kesulitan bernapas namun tidak sampai harus isolasi mandiri di Rumah Sakit. Beliau mengakui secara jujur semua obat dan vitamin yang diresepkan dokter tidak habis diminum tapi dirinya lebih memilih TOGA atau tanaman obat keluarga yang hidup di halaman rumahnya di lantai 2. Jika disecara otomatis konsep ketahanan pangan yang diusung dengan konsep urban farming dengan metode tanam bioponik berhasil dan terbukti dapat mengajak serta seluruh masyarakat untuk bangkit bersama melawan dan menghadapi pandemi dengan terlibat aktif peduli lingkungan hijau dan asri.

Nilai optimisme dan filosofi Pohon dari Pak Tarno.

Utama Composter, Perusahaan Tempat Pak Tarno Bekerja dan Berinovasi

Saya belajar banyak hal dari Pak Tarno saat mengunjungi istana beliau. Ya, betul saya menyebutnya sebagai istana. Buat saya isi rumah Pak Tarno sangat istimewa. Mewah dan kaya! Mewah karena tanaman apa saja tersedia dengan khasiat dan manfaat yang tidak perlu ditanya serta kaya karena hati beliau yang sungguh mulia. Beliau tidak pernah behenti berbagi ilmu, memberi kebermanfaatan bagi sekeliling dan pintu rumahnya selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar.

Pak Tarno menambahkan. Menurut beliau kerhasilan itu tidak serta merta datang dengan sendirinya tapi harus dimulai dari sendiri, kemudian ke lingkungan terdekat terutama keluarga selanjutnya bergerak ke sekeliling atau lingkungan sekitar. Perlunya sinergi dan kolaborasi aksi (kolaboraksi) banyak pihak. Sepert halnya filosofi lmu pohon, semakin sering daun dan buahnya itu dipetik maka akan tumbuh dengan subur dan segar. Jadi selama baik untuk sesama lakukan yang terpenting bukan untuk merusak apalagi mengeksploitasi.

Ember, Galon, Tong adalah Teman Paling Setia yang Menemani Pak Tarno Sehari-hari (dokpri)

Ekonomi sirkular terjadi di sini. Ekosistem berkelanjutan pun akan terus berjalan berkesinambungan. Sehingga hampir tidak ada yang sia-sia dan semua bisa menikmati buah hasil kerja kerasnya. Sebagai catatan penghargaan itu memang penting. Tapi indahnya senyuman yang terpancar dari raut atau wajah masyarakat ternyata lebih penting lagi. Kunci ikhlas, kerelaan dan semangat berbagi tanpa henti.

Maka pantas jika saya menyebut beliau dengan orang kaya. Tidak hanya kaya hati, kaya ilmu dan kaya pengalaman. Panjang umur orang baik. Menciptakan satu orang seperti ini di dalam 1 RW di suatu wilayah perkampungan atau desa di seluruh Indonesia, rasanya bukan hal yang mustahil lagi apabila Indonesia menjadi bangsa yang madani dan mandiri terutama menjadi percontohan pejuang perubahan iklim dunia. Amin

Komentar

Posting Komentar