Modem Mifi HKM M22 Mendukung Mobilitas Internet Lancar

Peranan Dukungan Sehat Jiwa dalam Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2019



Memiliki keluarga kecil bahagia pastilah dambaan setiap orang. Segalanya merupakan pilihan, apakah kita akan mengarunginya dengan rasa bahagia atau penuh dengan rasa jengkel. Hal ini yang harus dihadapi oleh Marlo karakter utama dalam film Tully, sebuah drama komedi yang tayang pada tahun 2018 dimana mengisahkan tentang peran Ibu Rumah Tangga yang mengalami depresi hebat.

Dengan memiliki dua anak yang lucu ternyata belum membuat Marlo terlihat happy. Apalagi ketika dia sedang mengandung anak ketiga. Suaminya, Drew lebih banyak sibuk dengan pekerjaannya sehingga waktu untuk keluarganya menjadi berkurang. Marlo sejak pagi harus mengantarkan anak-anaknya sekolah dan seperti tidak pernah lepas dari rutinitas Ibu rumah tangganya. Raut wajah cerianya seketika tertutupi banyak beban dan mengisyaratkan stress yang begitu dalam.
Beruntung Marlo memiliki kakak laki-laki yang mengerti permasalahan yang sedang dihadapinya. Craig menangkap perasaan yang dipendam Marlo selama ini dengan cepat. Craig menyarankan Marlo untuk menyewa jasa seorang pengasuh bayi supaya meringankan pekerjaannya selama di rumah. Apalagi Marlo yang segera melahirkan anak ketiganya. Sayangnya Marlo belum sepenuhnya percaya begitu saja dengan orang lain. Pikirnya anggota keluarga harus selalu bersama, melindungi dan saling merawat satu sama lain.

 


Ketika anak ketiganya lahir, Marlo mulai kerepotan. Rasa lelah terus membayangi dirinya baik secara fisik dan jiwa. Marlo mulai jengah. Sehingga tidak bisa menolak untuk menerima usulan dari kakaknya, yaitu menyewa seorang nanny. Sampai akhirnya sosok Tully datang dan kemudian mulai mengubah pandangan hidup Marlo. Bagi dirinya Tully merupakan sosok pengasuh yang berbeda dari pengasuh pada umumnya. Singkat cerita, kenyataannya Tully hanyalah sosok bayangan Marlo sewaktu dirinya masih gadis dan hidup bebas tanpa beban dan ikatan. Dia hanya berhalusinasi jika keberadaan Tully itu seolah-olah tampak nyata menemaninya. Di sini peran seorang Ibu rumah tangga sebagai pengurus keluarga dipertaruhkan. Ternyata Tully mengalami depresi berat hingga akhirnya tidak sadarkan diri dalam sebuah kecelakaan tunggal di jalan raya dan dilarikan ke rumah sakit.

Sempat berpikir di dalam hati, ku kira cerita seperti ini hanya ada di film lho. Tapi ternyata banyak dialami di dunia nyata terutama bagi para Ibu di seluruh dunia. Profesi IRT tidaklah mudah. Walau kelihatannya banyak menyibukkan kegiatan di rumah tetapi jujur mereka itu luar biasa. Apalagi dengan kondisi setelah mereka melahirkan. Pastilah mengalami kelemahan baik secara fisik ataupun mentalnya. Bukan hal yang mustahil kondisi Ibu paska melahirkan akan down dan menjadi tidak stabil.

 
Oia, menyambung film di atas tadi jadi ingat kalau Hari Kesehatan Jiwa Sedunia diperingati setiap tanggal 10 Oktober sejak tahun 1992. Dalam rangka memperingati HKJS, 10 Oktober 2019 Kemenkes RI dalam hal ini mengusung tema "Mental Health Promotion and Suicidie Prevention", Suicidal Behaviour" yang telah dikenali sepanjang sejarah peradaban manusia. Akan tetapi prevalensinya semakin meningkat. Dalam kurun waktu 1 dasawarsa terakhir saja telah mencapai angka yang memprihatinkan. Data WHO menyebutkan lebih dari 800 ribu orang meninggal setiap tahunnya karena bunuh diri. Hal ini tak pelak diawali dengan gangguan kesehatan jiwa seseorang.


Untuk itulah dalam rangka memberikan pemahaman akan bahayanya bunuh diri kepada masyarakat, Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI khususnya Direktorat P2 Kesehatan Jiwa dan Napza Direktorat P2P Kemenkes RI menyelenggarakan Temu Blogger Kesehatan dengan melibatkan komunitas pegiat sosial media pada Rabu (9/10) yang berlokasi di Ruang Naranta, Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI, Kuningan Jaksel. Event menarik sekaligus langka tersebut turut mengundang beberapa narasumber ahli yang kompeten di bidangnya masing-masing. Pada kesempatan tersebut dihadiri oleh Direktur Keswa dan Napza dr Fidiansyah, SpKJ, Novy Yulianti sebagai Penggerak dari Motherhope Indonesia serta Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si., perwakilan dari Ikatan Psikologi Klinis Indonesia.
 
Sama halnya seperti yang dialami oleh Mbak Novi yang juga merupakan seorang psikolog. Bukan berarti kebal  atau tidak pernah mengalami gejala-gejala yang berhubungan dengan penyakit jiwa. Psikolog pun manusia biasa yang bisa saja memiliki pengalaman yang tidak mengenakan terkait kesehatan mental.

Sejak tahun 2013 paska melahirkan pemilik nama lengkap Novy Yulianty ini pernah mengalami depresi berat yang disebut dengan Postpartum Depression. Barulah pada tahun 2015 setelah buah hatinya menginjak 2 tahun ia akhirnya baru merasa bahagia menjadi seorang Ibu. Dahulu sewaktu melahirkan secara cesar terlihat kaget, syok dan mengalami Baby Blues Syndrome. Beliau menunjukkan banyak gejala-gejala, misalnya seperti kesedihan yang mendalam, merasa tidak berguna dan payah menjalani profesinya sebagai Ibu baru, menurunnya konsentrasi, terganggunya kualitas tidur, malu dan cemas ketika dikunjungi oleh orang lain bahkan fatalnya lagi sampai ingin mengakhiri hidupnya.


Ketika Mbak Novy menjadi pemateri mengatakan ada banyak faktor yang menjadi penyebab depresi paska persalinan. Pertama faktor fisik dan yang kedua adalah psikologis. Faktor fisik meliputi perubahan fisik yang terjadi selama kehamilan, meningkatnya hormon, bertambah berat badan, pengalaman pms yang cukup parah, keguguran hingga kelelahan hebat. Sementara itu dari sisi psikologis, mereka mengalami riwayat kecemasan sewaktu hamil, ketidakmampuannya dalam menghadapi stress, stress yang berhubungan dengan perannya sebagai Ibu hingga riwayat keluarga yang pernah mengalami stress atau depresi berat.


Beruntung beliau mengenal Motherhope Indonesia. Melalui misinya yang berperan aktif dalam memberikan dukungan kepada Ibu hamil, bersalin, nifas dan menyusui. Kemudian meningkatkan kesadaran Ibu, keluarga dan masyarakat mengenai pentingnya kesehatan jiwa bagi Ibu selama kehamilan, nifas, dan menyusui. Menghilangkan stigma masyarakat terhadap gangguan kesehatan jiwa pada Ibu selama masa hamil, bersalin, nifas dan menyusui. Kegiatan Motherhope Indonesia meliputi Seminar, Support Group, Psikoedukasi dan Homevisit.

Jika tidak ditangani dengan baik malah akan menimbulkan banyak dampak. Tidak hanya bagi Ibu, anak tapi juga keluarga.

-Bagi sang Ibu; hilangnya kepercayaan diri, merasa gagal menjadi Ibu, sulit menjalin bonding dengan anak, depresi berkelanjutan hingga psikosis postpartum, perilaku yang agresif hingga percobaan bunuh diri.
-Dampak terhadap Anak; gangguan emosional dan keterlambatan bicara (speech delay), ikatan bonding anak dengan Ibu berkurang, slow learner dan tak sedikit yang menjadi korban kekerasan.
-Sudah barang tentu akan berdampak kepada Keluarga; mulai dari konflik di dalam rumah tangga, dengan keluarga inti ataupun mertua dan kesulitan finansial.

Jika kita tengok ke belakang, berdasarkan UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 definisi kesehatan itu adalah keadaan sehat baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Keempat hal di atas merupakan unsur kesehatan yang paripurna. Sementara itu kesehatan jiwa itu adalah kondisi dimana seorang individu berkembang secara keempat unsur yang sudah disebutkan tadi sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Hal ini tertuang di dalam UU No. 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.


Sehat jiwa dimulai dari diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Jadi upaya promotif perlu dilakukan oleh kita semua bukan hanya tanggung jawab dari tenaga kesehatan. Perlu peran dan partisipasi banyak pihak. Dalam hal ini tidak hanya pasangan, keluarga terdekat, masyarakat sekitar hingga pemerintah. Bukan hanya instansi terkait saja seperti Kementerian Kesehatan tetapi juga Dinas Pendidikan, Agama, Sosial terkait kesehatan jiwa. Banyak langkah yang dapat kita lakukan untuk meringankan beban mereka dan menjauhkan para penyintas dari keinginan bunuh diri.


Komentar