Terobosan Sektor UMKM Jaring Kemitraan Perkuat UMKM Indonesia Naik Kelas


Kalau bicara tentang usaha di Indonesia, saat ini usaha mikro, kecil dan menengah atau biasa disingkat dengan (UMKM) dari tahun ke tahun sudah mulai berkembang pesat. Walaupun UMKM di Indonesia ini masih terbilang kecil dalam skala internasional tetapi nyatanya berdasarkan data dari pemerintah bahwa UMKM pada tahun 2019 telah mampu menyumbang sebesar 60,3% product domestic bruto (PDB) dan 97% tenaga kerja.

Dengan perkembangan UMKM di Indonesia saat ini telah membantu pemerintah untuk bisa menciptakan lapangan kerja bagi pengangguran. Selain itu perkembangan UMKM di Indonesia juga telah membantu meningkatkan ketahanan ekonomi rumah tangga di Indonesia. Dengan demikian kebijakan pembangunan berbasis UMKM bisa menjadi prioritas.

Selain memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi PDB, UMKM Indonesia sejauh ini ternyata sudah mampu menembus pasar Internasional. Hal itu nampak seperti nilai ekspor sektor UMKM hasil binaan Bank Indonesia (BI) yang telah  mencapai Rp1,4 triliun dari 91 pelaku UMKM pada tahun 2019. Jumlah tersebut hanya pada satu titik saja belum lagi di titik yang lain yang jumlahnya masih  banyak. Tentunya potret tersebut memberikan bukti apabila pemerintah Indonesia sangat serius dalam mengembangkan sektor perdagangan dimana menggerakkan sektor riil berbasis UMKM.

Meskipun nampak agresif, namun tidak semua pelaku UMKM di Indonesia memiliki nasib yang sama dan mampu berkembang pesat. Apalagi melihat  disparitas antara wilayah Indonesia khususnya pulau Jawa dengan pulau di luar Jawa turut mempengaruhi perkembangan UMKM yang ada selama ini.

Banyak UMKM di luar pulau Jawa yang belum mengalami naik kelas dan masih terkendala selain infrastruktur dan efisiensi dalam berbisnis. Para pelaku UMKM banyak terkendala masalah klasik di antaranya adalah kelembagaan, perkuatan permodalan, sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, inovasi pemasaran dan teknologi ICT. Hal tersebut menjadikan UMKM sulit mengalami naik kelas. Sementara produk-produk mereka yang memiliki kearifan lokal apabila mampu di asesmen dengan baik bisa berpeluang untuk lebih kompetitif di pasar global.

Melihat kendala tersebut diperlukan kemitraan UMKM agar bisa naik kelas dengan berbagai cara, diantaranya dengan mendirikan koperasi atau dengan bermitra dengan lembaga strategis lainnya. Dengan mendirikan koperasi, UMKM akan dibina dari sisi capacity building hingga pada aspek keuangan, dengan demikian UMKM akan lebih jelas peran dan peta jalannya ke depan untuk bisa lebih naik kelas. Begitu juga dengan mitra strategis lain seperti modal ventura UMKM atau perusahaan leasing (sewa) peralatan dan teknologi IT untuk UMKM. Dengan demikian akselerasi UMKM untuk lebih cepat berkembang bisa terlaksana.

Bahasan di atas merupakan salah satu variabel bagaimana cara agar UMKM bisa naik kelas. Namun masih banyak lagi strategi-strategi lainya yang bisa digali untuk menjaring kemitraan UMKM agar naik kelas, baik dari sisi manajemen risiko (risk management) dan lain-lain. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada hal tersebut menjadi fokus Forum Wartawan Koperasi (FORWAKOP) lalu berkerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM untuk menggelar focus group discussion (FGD) yang bertemakan tentang Menjaring Kemitraan Perkuat UMKM Naik Kelas.


Pada kesempatan tersebut Deputi bidang Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Bapak Abdul Kadir Damanik yang membuka FGD pada Selasa (26/11) di Kantor Kemenkop UMKM di Kuningan, Jaksel. Hadir dalam acara tersebut sebagai narasumber Ketua Pengurus Koperasi Telekomunikasi Selular  (KISEL) Mas Suryo Hadiyanto.

Pada kesempatan tersebut Pak Abdul Kadir Damanik mengatakan bahwa potensi sektor UMKM untuk mendorong pertumbuhan ekonomi atau PDB nasional terus bertumbuh sangat besar. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar pertumbuhan ekonomi tersebut bisa melesat sehingga tidak stagnan di sekitar angka 5 persen yaitu dengan mendorong UMKM naik kelas.

Menurutnya, apabila ada UMKM yang naik kelas sekitar 2,5 persen dari jumlah total maka kenaikan PDB berpotensi mencapai tumbuh Rp486 triliun atau setara pertumbuhan ekonomi 5,88 persen. Sementara jika ada 10 persen UMKM yang naik kelas peluang PDB akan tumbuh sebesar Rp936 triliun atau setara PDB 6,59 persen. Kemudian, masih Abdul Kadir Damanik, jika ada UMKM yang tumbuh besar sebesar 10 persen maka potensi pendapatan negara akan tumbuh sekitar Rp1.872 triliun atau setara pertumbuhan PDB sebesar 8 persen.
“UMKM naik kelas itu penting, sebab persentase UMKM yang naik kelas itu akan menentukan dan mendorong pertumbuhan ekonomi kita. Masalahanya, UMKM kita ini masih banyak yang belum percaya diri,” kata Pak Abdul.

Beliu menjelaskan bahwa beberapa persoalan yang kerap dihadapi oleh UMKM diantaranya adalah SDM dan Manajemen yang terbatas dan kurang memanfaatkan teknologi dalam hal produksi hingga pemasaran. Inovasi dari rata-rata UMKM selama ini juga masih minim sehingga bisnis UMKM kerap jalan di tempat. Belum lagi persoalan financial atau modal usaha yang kadang menghambat pelaku UMKM untuk meningkatkan produktifitasnya. Persoalan terakhir yaitu keterbatasan akses pemasaran dan juga penyediaan bahan baku.

Untuk mengatasi berbagai persaolan tersebut, beliau menyatakan bahwa pihaknya sudah menyiapkan enam strategi jitu. Pertama, Kemenkop dan UKM komitmen untuk memberikan akses pasar yang lebih luas bagi UMKM sektor produksi atau jasa. Kedua adalah dengan memberikan dukungan pembiayaan ketika UMKM tidak dapat mengakses pembiayaan melalui perbankan. Ketiga, Kemenkop dan UKM juga menjamin akan terus memberikan kemudahan serta kesempatan berusaha.

Strategi keempat yaitu meningkatkan daya siang produk UMKM dengan mendorong UMKM memiliki standar kualitas mutu tertentu. Kelima, pengembangan kapasitas manajemen SDM pelaku UMKM dengan terus melakukan pendampingan baik secara online ataupun offline. Keenam, Kemenkop dan UKM akan terus bersinergi dengan Kementerian dan Lembaga terkait dan stakeholder lainnya agar lima strategi tersebut dapat berjalan sesuai harapan.“Dari situ (strategi) kita harapkan bisa ada perubahan dimana UMKM bisa menjadi bagian dari global value chain. Kemudian juga bisa tetap melahirkan enterpreneur baru. Itu yang akan kita tuju dalam 5 tahun kedepan,” pungkasnya.

Bersamaan dengan itu, Ketua Koperasi Telekomunikasi Selular (Kisel), Mas Suryo Hadiyanto, menambahkan untuk bisa menscale-up koperasi dan UMKM perlu ada terobosan-terobosan yang dilakukan oleh pengurus koperasi atau pelaku UMKM itu sendiri. Menurutnya koperasi dan UMKM wajib memanfaatkan perkembangan teknologi untuk dapat memasarkan produk-produknya. Dengan begitu pangsa pasar dari koperasi dan UMKM juga akan semakin luas.


Setidaknya, Kisel melakukan tiga terobosan yaitu dengan membuat sebuah aplikasi, memperluas channel dan platform baru. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah memastikan bahwa produk-produk dan layanan dari Kisel tersertifikasi atau memenuhi standar yang ditentukan. Dengan begitu daya saing dan tingkat kepercayaan customer terhadap produk dan layanan dari Kisel terjamin.

“Kita bangun people, sistem dan teknologi. Kita juga sertifikasi SDM kita sebab bagaimanapun sebagai institusi kalau kita sendiri tidak bisa berikan standar mutu tingkat internasional, nggak mungkin customer kita percaya. Dengan punya sertifikasi itu bahkan semua unicorn mau kerjasama dengan kita, karena mereka firm dan yakin Kisel udah ikuti standar dunia,” ujar Mas Suryo.

Beliau menambahkan Kisel saat ini beranggotakan 6.797 orang yang merupakan karyawan dari PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Kisel sendiri memiliki tiga unit bisnis utamanya yaitu Sales and Channel (S&C), General Services (GS), dan Telco Infrastructure & Power Engeenering. Dari tiga unit bisnis ini Kisel berhasil mendirikan lima perusahaan yaitu PT Kinarya Alih Daya Mandiri (KAM), PT Kinarya Alih Selaras (KST), PT Kinarya Selaras Piranti (KSP), PT Kinarya Selaras Solusi (KSS) dan PT Kinarya Mandiri Konstruksi.

Ke depan Kisel menargetkan pada tahun 2020 membidik target omset hingga Rp7 triliun. Dengan digitalisasi usaha dan inovasi yang terus dilakukan oleh Kisel saat ini bisa mencapai omset sebesar Rp6 triliun. “Tahun 2020 nanti kita harap bisa sentuh Rp7 triliun, kalau bisa kita optimalkan lagi agar bisa mencapai Rp8 triliun,” pungkasnya.

Komentar