Energi Terbarukan Untuk Alternatif Hidup Lebih Baik

saatnya-energi-muda-beraksi
ilustrasi biofuel

Ketergantungan Indonesia akan Bahan Bakar Fosil
Manusia membutuhkan energi sebagai komoditas utama dalam menjalankan perekonomian. Sumber energi dunia umumnya berasal dari sumber energi tak terbarukan (unrenewable resources) seperti minyak bumi, gas alam dan batu bara. Secara garis besar pemanfaatan energi tersebut diprioritaskan untuk sektor rumah tangga, komersil, industri dan transportasi.


Kementerian ESDM (2008) menyebutkan konsumsi energi di Indonesia masih bergantung pada minyak bumi. Minyak bumi mendominasi sekitar 54% penggunaan energi Indonesia. Konsumsi energi di Indonesia terus meningkat dengan pertumbuhan 7% setiap tahunnya, sedangkan peningkatan konsumsi energi dunia hanya berkisar 2,6% per tahun. Bahan bakar berfosil ini tidak dapat mencukupi keperluan jangka panjang. 

saatnya-energi-muda-beraksi
Ilustrasi kelangkaan Bahan Bakar Fosil (dok. Kompasiana.com)
Pada 2030 diperkirakan cadangan minyak bumi Indonesia akan habis. Berdasarkan data Ditjen migas (2012) menyebutkan cadangan minyak Indonesia mengalami penurunan yang signifikan setiap tahun. Sejak tahun 2004 saja tercatat ada sekitar 8,61 milyar barel, 7 tahun kemudian pada tahun 2011 cadangan minyak hanya mencapai 7,73 milyar barel. Kecenderungan gejala ini sejalan dengan hasil produksi yang tidak memuaskan. Pada akhirnya negara kita terpaksa hanya mampu mengimpor dari negara tetangga seperti Brunei Darussalam dan negara lain yang berada di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Nigeria dan Azerbaijan. (esdm.go.id).

saatnya-energi-muda-beraksi
Sumber: icare-indonesia.org
Jika hal ini dibiarkan, cadangan energi semakin lama akan semakin menipis. Diperkirakan akan lebih cepat yaitu 10-12 tahun akan habis. Hal ini dapat terjadi jika kebutuhan masyarakat Indonesia akan energi tidak mengalami kenaikan yang signifikan setiap tahunnya. Sementara untuk proses produksi bahan bakar fosil sendiri memerlukan waktu hingga jutaan tahun. Kelangkaan ini juga memicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Apabila dibiarkan eksploitasi bahan bakar jenis ini secara berlebihan akan menimbulkan kerusakan lapisan ozon, akibat menumpuknya emisi gas buang di udara hasil dari pembakaran CO2 kendaraan bermotor, sebagai dampak terjadinya pemanasan global (global warming).

Solusi Untuk Mengurangi Konsumsi Energi Fosil
saatnya-energi-muda-beraksi
Subsidi BBM dari Pemerintah ketika itu (merdeka.com)
Pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk membantu kegiatan ekonomi rakyat, namun hal ini malah menimbulkan ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah. Dampak yang terjadi berupa pembengkakan anggaran belanja negara. Oleh sebab itu, sebagai upaya menjamin pasokan energi dalam negeri, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden No.5 Tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional. Berdasarkan Perpres tersebut mulai dilakukan terobosan diversifikasi energi melalui pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) sebagai sumber energi alternatif.
saatnya-energi-muda-beraksi
Sumber Energi Alternatif Terbarukan (sumber: kemendagri.com)
Penelitian untuk mencari jenis energi baru yang murah, mudah dan ramah lingkungan tersebut telah lama dimulai. Seperti di negara maju kini telah mulai mengaplikasikan berbagai variasi proses produksi energi alternatif dari minyak nabati di antaranya berasal dari jarak pagar, kelapa sawit (crude palm oil), kedelai, jagung, karet, kanola (rapeseed) sebagai penghasil biofuel. Sumber alternatif energi baru yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia berasal dari bahan bakar nabati (biofuel) yaitu biodiesel.
Biodiesel sebagai Tumpuan Energi Terbarukan Indonesia
Biodiesel merupakan bahan bakar yang mengandung senyawa Fatty Acid Methyl Esther (FAME) sebagai komponen utama dengan karakteristik yang menyerupai minyak solar. Di negara kita bahan nabati yang digunakan adalah minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO). Biodiesel murni dikenal dengan simbol B100 yang artinya biodiesel dengan kadar 100%.
saatnya-energi-muda-beraksi
Produk B20 Biodiesel (dok. tribunnews.com)
Arah kebijakan biodiesel di Indonesia mengacu pada arah keberlanjutan ekonomi, sosial dan lingkungan. Untuk itu melalui Permen ESDM No. 12 Tahun 2015, pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa Program Mandatori B20. Beda halnya dengan B100, B20 masih terdiri dari pencampuran antara 20% biodiesel dengan 80% minyak solar. Kebijakan tersebut dibuat bukan tanpa alasan. Beberapa manfaat dari Program B20 adalah untuk mengurangi ketergantungan impor terhadap minyak solar, menyumbang penghemat devisa negara sebesar 5,5 Milyar Dollar per tahunnya sehingga menjaga kestabilan rupiah serta mendorong peningkatan harga CPO itu sendiri.
Saatnya Yang Moeda Tampil
saatnya-energi-muda-beraksi
Saya #EnergiMuda (dokpri)
Bayangkan ketika dua jempol dapat menghasilkan energi, maka dengan kedua jari tangan tersebutlah kita mampu ber #kolaborAKSI. Sebagai negara yang diberkahi bonus demografi dimana mayoritas penduduknya berasal dari generasi milenial. Sudah tepat jika tongkat estafet diberikan kepada generasi muda yang menjadi agent of change. Mereka harus mengetahui, menyadari, mampu dan mau bertindak secara nyata.
saatnya-energi-muda-beraksi
Sumber: Coaction Indonesia
Untuk itulah Koaksi (Coaction Indonesia) sebagai medium platform advokasi dan kolaborasi serta akselerasi energi terbarukan di Indonesia hadir untuk mengajak sekaligus membuka perspektif kalangan muda/ milenial untuk ambil bagian dan berkontribusi aktif dalam membahas dan mengangkat isu-isu terkait energi dan energi terbarukan. Program B20 mustahil akan efektif disosialisasikan tanpa wujud peran serta mereka dalam menyebarluaskan informasi dan melakukan aksi nyata khususnya dalam upaya membudayakan penghematan serta konservasi energi. Bahasan tentang energi tidak lagi diperlakukan secara eksklusif tetapi justru kini sudah banyak didiskusikan lewat forum-forum anak muda.
saatnya-energi-muda-beraksi
Kampanye Saatnya Energi Muda Beraksi (dok. Imawan)
Nah, sekarang tergantung bagaimana sikap kalian sebagai generasi muda harapan bangsa. Tetap ingin berpangku tangan atau menunjukkan taji untuk menawarkan solusi? Banyak ide segar dan terobosan yang bisa dilakukan. Jika belum mampu turun tangan paling tidak dapat menyumbang atau urun angan. Jadi jangan kendalikan pikiran kalian hanya untuk duduk manis dan berdiam diri.



Komentar

  1. Mungkin belum bisa ikut penelitian energi, tapi paling tidak, bisa ikut menyebarkam infonya.

    BalasHapus
  2. Ya ampunnnnn perkiraan 2030 energi fosil akan habis? Mengerikan!!! Selayaknya penggunaan energi terbarukan bisa dimanfaatkan mulai dari sekarang. Semoga semua stakeholder bisa berkontribusi untuk mempercepat pengembangannya

    BalasHapus
  3. Paling ngga, dengan membantu menyebarkan ini maka informasi soal energi terbarukan makin bisa didengar oleh banyak orang.

    BalasHapus
  4. Generasi muda sangat potensial dalam menyebarkan info ini, apalagi melalui sosial media. Hmmm, penyebarannya pasti cepat. Apalagi kalau didukung tindakan nyata pasti lebih mantap

    BalasHapus
  5. Jika belum mampu turun tangan paling tidak dapat menyumbang atau urun angan. Setujuu bangets! Kuy, beraksi sebarkan informasi!

    BalasHapus

Posting Komentar