Indonesia Bangga! Pelopori Hari Bebas Kendaraan Bermotor di Kawasan ASEAN

ASEAN-Car-Free-Day
ASEAN Secretary Headquarter (www.aspistrategist.org.au)

Perubahan iklim (climate change) yang terjadi di dunia telah membawa dampak buruk bagi umat manusia. Musibah banjir, tanah longsor bahkan rob serta bencana alam lainnya tak lagi dapat dihindari. Semua ini dapat terjadi akibat ulah manusia (human error). Termasuk polusi udara (air pollution) yang disebabkan oleh asap (smoke) sisa hasil industri dan residu kendaraan bermotor di perkotaan menjadi penyumbang terbesar menipisnya lapisan ozon di atmosfer bumi sehingga menyebabkan efek rumah kaca (green house effect). 

Padahal sejak dahulu Indonesia dikenal sebagai paru-parunya dunia karena memiliki areal hutan yang luas terutama di Pulau Kalimantan dan banyaknya pepohonan hijau memproduksi jumlah oksigen yang dibutuhkan penduduk di dunia. Lain dulu lain sekarang, kini semua itu hanya tinggal kenangan. Banyak hutan yang rusak akibat penggundulan hutan dan pembalakan liar, sehingga perlahan-lahan memberi efek pada kualitas udara pada level yang memprihatinkan.

Indonesia sebagai Paru-paru dunia (dok. cfo.com)

Parahnya lagi seperti dilansir dari situs online mediaindonesia.com, Jakarta dalam Indeks Kualitas Udara (AQI) berdasarkan AirVisual akhir Juli lalu tepatnya pada Jum’at (27/7), berada di posisi kelima terburuk di dunia dan tetap paling buruk di antara negara-negara ASEAN. Miris yaa? Seperti diketahui kualitas udara dapat diukur dengan mengukur tingkat partikel yang lebih kecil dari 10 mikrometer per meter kubik udara µg/m3, atau Particulate Matter 10 yang biasa disingkat PM10. Data AirVisual menunjukkan Jakarta mencapai 138 µg/m3. Ukuran tersebut kemudian telah diperbarui dengan PM2,5, yang mengukur partikel berukuran lebih kecil dari 2,5 µg/m3.

PM2,5 adalah partikel udara halus yang sangat berbahaya karena dapat berpenetrasi menembus bagian terdalam dari paru-paru dan sistem jantung, menyebabkan gangguan kesehatan di antaranya infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), kanker paru-paru, penyakit kardiovaskular, dan bahkan kematian. Menurut kategori yang ditetapkan, konsentrasi skala 0-50 µg/m3 diklasifikasikan udara yang baik, 51-100 µg/m3 (moderat), 101-150 µg/m3 (tidak sehat untuk kelompok sensitif), 151-200 µg/m3 (tidak sehat), 201-300 µg/m3 (sangat tidak sehat), dan 300+ (bahaya). 

Sebagai pembanding di dalam negeri sendiri, kualitas udara Jakarta jauh lebih buruk daripada di Batam (Kepulauan Riau) 74 µg/m3 dan Medan (Sumatra Utara) 34 µg/m3. Bayangkan jika hal ini dapat membawa dampak jangka panjang bagi terganggunya kesehatan penduduk Jakarta khususnya pada sistem pernapasan.

Lantas apakah cukup hanya duduk diam meratapi nasib saja?

ASEAN-Car-Free-Day
Ilustrasi Jalan Raya tanpa Kendaraan Bermotor

Sebenarnya pemerintah pusat dan daerah dalam hal ini tidak tinggal diam. Pemerintah menawarkan beragam solusi dan telah mencanangkan banyak program untuk mengurangi dampak dari polusi udara. Seperti menaikkan harga bensin dan mengubahnya menjadi Pertamax, merevitalisasi insfrastruktur seperti jalur pejalan kaki (pedestrian), memperbanyak variasi moda transportasi publik seperti BRT (Bus Rapid Transit), KRL (Commuter Line) hingga MRT (Mass Rapid Transit) dan LRT (Light Rapid Transit) yang masih dalam proses pengerjaan sampai saat ini. Tidak hanya itu saja pembatasan sistem ganjil genap (jilnap) diberlakukan di beberapa wilayah Jalan Protokol ibukota, bahkan peraturan Hari Bebas Kendaraan Bermotor yang kita kenal dengan Car Free Day pada hari Minggu dari pagi hingga siang hari. Tujuannya tak lain dan tak bukan yaitu untuk mengurai kemacetan lalu lintas dan mengurangi polusi udara yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor (motor vehicles).

Minggu lalu (5/8) menjadi kehormatan tersendiri bagi Indonesia dalam rangka menularkan gaya hidup sehat kepada masyarakat di negara-negara anggota ASEAN sekaligus sebagai negara pemimpin dan tuan rumah diluncurkannya program Hari Bebas Kendaraan (HKB) ASEAN (ASEAN Car Free Day). 
ASEAN-Car-Free-Day
Pemateri yang hadir pada media briefing ASEAN Car Free Day

Bertempat di kantor Kemenko PMK, peluncuran Hari Bebas Kendaraan Bermotor se ASEAN diresmikan dan digaungkan melalui temu media briefing (pengarahan) yang dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Koordinasi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), perwakilan tetap untuk ASEAN dari negara anggota ASEAN di Jakarta, Sekjen ASEAN dan Deputi Sekretaris Jenderal untuk Komunitas Sosial Budaya ASEAN dan mengundang lebih dari 50 perwakilan dari media cetak, online dan official tv broadcaster, termasuk rekan Blogger.


ASEAN-Car-Free-Day
Logo ASEAN Car Free Day

ASEAN Car Free Day
(ASEAN CFD) merupakan prakarsa advokasi di tingkat regional. Oleh Kementerian Kesehatan Indonesia dengan dukungan dari Kementerian Kesehatan negara anggota ASEAN lainnya untuk mempromosikan gaya hidup sehat, dengan melakukan aktivitas fisik dan berbagai bentuk kegiatan positif lainnya yang dilakukan oleh masyarakat di area khusus atau jalan yang bebas dari kendaraan bermotor, dalam waktu dan hari tertentu dalam sebulan. ASEAN Car Free Day dapat menjadi sarana yang baik bagi pembangunan masyarakat ASEAN, terutama di bidang kesehatan, dengan bersama-sama mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan di sepanjang area Car Free Day.

Sebelumnya para Menteri Kesehatan se ASEAN pada pertemuan dwi tahunan dalam ASEAN Health Ministers/ AHMM) pada bulan September 2017 di Brunei Darussalam membahas inisiatif untuk saling memperkuat komitmen khususnya di sektor kesehatan ASEAN dalam mempromosikan gaya hidup sehat dan mengatasi atau mencegah serangan terutama ditimbulkan oleh penyakit tidak menular, seperti Diabetes, Kanker, penyakit kardiovaskuler dan sistem pernapasan. Salah satunya dengan program Car Free Day.

ASEAN-Car-Free-Day
Budaya Hidup Sehat Negara ASEAN

“Pemerintah Indonesia mengucapkan terima kasih kepada ASEAN yang telah menunjuk Indonesia untuk menjadi lead country sekaligus host country peluncuran ASEAN Car Free Day tersebut. Pihaknya merasa terhormat dapat menerima kepercayaan dari ASEAN dalam mengemban tanggung jawab ini.”

Menko PMK dalam sambutannya menegaskan kembali komitmen Indonesia pada pertemuan para Menteri Kesehatan se-ASEAN menyatakan bahwa Indonesia akan terus melanjutkan implementasi Hari Bebas Kendaraan dan akan terus mendorong program ini untuk dapat dilaksanakan pula di seluruh Negara ASEAN. “Kami mengapresiasi inisiatif dan kerja dari sektor Kesehatan ASEAN untuk mengangkat kegiatan Car Free Day sebagai bagian dari upaya ASEAN mendukung people-centered ASEAN dan terus berkolaborasi antar sektor.”, jelasnya

“Peluncuran ASEAN Car Free Day merupakan sumbangsih Indonesia kepada ASEAN yang akan berulang-tahun ke-51 pada tanggal 8 Agustus 2018, demikian sambutan Menko PMK, Puan Maharani, yang dibacakan oleh Deputi bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan, Kemenko PMK, Sigit Priohutomo, saat jumpa media peluncuran ASEAN Car Free Day di aula Heritage, gedung Kemenko PMK, Jakarta.

Hari Bebas Kendaraan sudah dimulai oleh Indonesia sejak tahun 2002. Meskipun dilakukan secara bertahap, HKB di Indonesia hingga kini jadi salah satu agenda rutin mingguan khususnya di ibukota Jakarta. HKB di Indonesia perlahan menjalar ke berbagai kota lain di Indonesia, bahkan sudah semakin membudaya di tengah masyarakat Indonesia. 

ASEAN-Car-Free-Day
Peluncuran ASEAN CFD di Brunei Darussalam (dok. ASEAN)

Sama halnya di Indonesia, masing-masing negara ASEAN lainnya seperti Brunei Darussalam dan Malaysia bergabung dalam launching ASEAN Car Free Day secara serentak pada Minggu pagi (5/8) waktu setempat. Negara-negara tersebut berjanji untuk konsisten melakukan agenda weekly car free days atau dikenal dengan car-free mornings setiap minggunya. Negara anggota ASEAN lainnya juga telah memulai hari bebas kendaraan bermotor, seperti Singapura yang telah lebih dahulu mengadakan acara serupa pada tanggal 27 Juli 2018, sementara negara anggota ASEAN lainnya telah menjadwalkan kegiatan hari bebas kendaraan bermotor dalam beberapa bulan mendatang.

Dalam pidatonya Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, SpM(K) selaku Menteri Kesehatan Republik Indonesia menyampaikan hal yang tidak jauh berbeda, bahwa “Kemenkes RI sangat mendukung program ini karena sejalan dengan semangat Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau yang disingkat GERMAS, sambutnya di depan para tamu yang hadir.” Sebagaimana diketahui, mempraktekkan gaya hidup sehat, salah satunya dengan berolahraga adalah bagian dari upaya pencegahan terhadap penyakit. Tubuh kita jadi lebih segar dan pikiran pun lebih positif. Ke depan hendaknya kita terus berupaya agar hal-hal positif menjadi budaya yang diadopsi oleh masyarakat ASEAN, imbuh Ibu Menkes.

Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, SpM(K)
Ket. Sambutan Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, SpM(K)

Lebih lanjut Prof. Nina Moeloek menyampaikan kegiatan ini juga merupakan bagian dari pelaksanaan ASEAN Declaration on Culture of Prevention for a Peaceful, Inclusive, Resilient, Healthy and Harmonious Society yang telah diadopsi oleh para Pemimpin negara ASEAN pada Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke 31 pada 13 November 2017 di Manila, Filipina. Besar harapan agar acara peluncuran ASEAN Car Free Day sekaligus dapat menyediakan ruang gerak yang luas bagi kolaborasi multi-sektor yang solid di tingkat nasional dan ASEAN dalam rangka mempromosikan gaya hidup sehat dan menciptakan masyarakat yang damai, inklusif, tangguh, sehat, dan harmonis.

ASEAN-Car-Free-Day
Pernak-pernik ASEAN Car Free Day (dok. Imawan)

Pada acara ini juga resmi diperkenalkan logo ASEAN Car Free Day dan tayangan video pelaksanaan ASEAN Car Free Day di sejumlah negara ASEANASEAN Car Free Day diluncurkan bersamaan dengan pemecahan rekor dunia Tari Poco-poco yang menjadi ajang promosi sosio-kultural aseli Indonesia kepada dunia. Kemeriahan peluncuran ASEAN Car Free Day diwarnai dengan pembagian souvenir berupa pin dan bendera berlogokan ASEAN Car Free Day serta photo booth yang tersedia di beberapa titik.

Kesimpulan

Kegiatan ASEAN Car Free Day diharapkan dapat dapat mempererat kolaborasi multi-sektor dan bertujuan tidak hanya untuk mempromosikan gaya hidup sehat dan mengurangi tingkat polusi udara dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor di jalan, tetapi juga untuk mendorong terciptanya masyarakat yang damai, inklusif, tangguh, sehat dan harmonis. Dengan begitu terciptalah pembangunan yang berwawasan kesehatan guna menyehatkan masyarakat dalam lingkup ASEAN.






Komentar

Postingan Populer