Konsep Keluarga Bahagia yang Terencana Menuju Indonesia Emas 2045

Menjadi anak tunggal satu-satunya di keluarga besar dalam silsilah generasi keturunan Ayah dan Ibu rasanya antara enak tidak enak. Mulai dari dicap sebagai anak kesayangan atau anak emas bahkan dinilai kerabat atau sanak famili sebagai keluarga yang serba kecukupan sebab dianggap sedikit tanggungan karena hanya memiliki anak semata wayang. Padahal aselinya sama saja kok dengan anak-anak yang lain di keluarga secara umum. Hehe

Kalau diceritakan ulang begitu besar pengorbanan orang tua untuk melahirkan saya ke dunia ini. Sepuluh tahun perkawinan mereka lewati dengan penuh harap dan perjuangan. Apalagi menjadi pasutri yang bekerja saat itu tidaklah mudah. Semua jenis pengobatan dari mulai medis hingga alternatif mereka tempuh agar cepat dikaruniai momongan.

Tak henti-hentinya mereka memanjatkan do'a setiap malam. Memohon kepada Alloh SWT Sang Maha Pencipta supaya diberikan buah hati impian untuk segera menyusul adik-adiknya dalam keluarga yang telah lebih dulu tokcer punya anak.

Hingga akhirnya tiga dasawarsa yang lalu akhirnya mereka diberi kepercayaan oleh Dzat Yang Maha Kuasa untuk menimang jabang bayi yang kemudian diberi nama dalam akta lahir jika diartikan secara harfiah adalah anugerah dan cahaya yang cerah dalam keluarga.

Beranjak dewasa saya baru memahami apa arti keluarga yang sebenarnya? Bukan sekedar cinta, saling sayang, menikah, punya rumah lalu punya anak namun ternyata lebih dari itu. Betapa anak merupakan harta berharga dan karunia besar yang dititipkan oleh Tuhan kepada setiap insan manusia.

Mirisnya masih banyak orang di luar sana yang menyia-nyiakan anaknya dengan pergi meninggalkan bahkan membuangnya ke tempat sampah setelah dilahirkan. Lebih biadabnya lagi janin yang tak berdosa tersebut digugurkan di dalam kandungan. Hati ini seperti tertusuk-tusuk rasanya. 

Padahal banyak pasangan di luar sana yang sedang menantikan punya anak hingga puluhan tahun lamanya. Betapa sedihnya hati mereka jika mendengar hal ini.

Ilustrasi Interaksi Keluarga (dokpri)
Hakikat Berkeluarga

Dikatakan dalam sebuah ayat kita memang diciptakan berpasang-pasangan antara laki-laki dan perempuan untuk saling mencintai, menyayangi dan mengasihi satu sama lain. Pada hakikatnya dianjurkan bagi mereka yang seiman, telah baligh dan mampu secara lahir dan bathin untuk segera menikah dan berumah-tangga. Nah, sebelumnya kita perlu mengetahui terlebih apa saja modal dalam membina keluarga.

Jika dahulu prinsip banyak anak banyak rezeki. Semakin memperbanyak keturunan maka akan berlimpah penghasilan. Hal tersebut mungkin hanya berlaku pada masa silam. Tidak demikian dengan zaman sekarang ini.

Seperti apa sih ciri keluarga ideal dan bagaimana membangun keluarga yang bahagia? Hal ini perlu dipahami baik itu bagi pasangan yang telah menikah ataupun buat yang belum menikah.

Blogger BPlus

Merupakan tanggung jawab pemerintah sebagai instansi terutama dalam hal ini BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Bencana Nasional) dengan  memberi ketegasan tentang kependudukan guna menurunkan angka kelahiran dan pernikahan dini. Bersinergi dengan BPlus mengadakan kegiatan temu komunitas dengan mengundang rekan-rekan blogger. Mengangkat tema "Membangun Keluarga Berkualitas dengan Cinta Terencana", kegiatan ini diselenggarakan pada pekan lalu 15 Mei 2018 di Museum Penerangan, TMII, Jaktim.

Beruntung terpilih menjadi 50 blogger yang berkesempatan mengikuti seminar dari tiga narasumber, yaitu Ibu Eka Sulistya Ediningsih selaku Direktur Bina Keluarga Remaja BKKBN, Kak Resi Prasasti selaku founder BloggerPlus dan Mbak Roslina Verauli yang tak asing lagi sebagai psikolog di bidang keluarga dan perkawinan.

Bagaimana solusi BKKBN?

CINTA TERENCANA

Para pemateri seminar

Cinta terencana merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh BKKBN sekaligus untuk memperingati Hari Keluarga Nasional yang jatuh setiap 29 Juni 2018. Hari Keluarga kita semua tahun ini akan diadakan di kota Manado, Sulut.

Cinta terencana adalah proses aktualisasi diri yang mendorong perilaku individu menjadi positif, responsif, kreatif, produktir, dan berorientasi pada masa depan.

Dengan tumbuhnya cinta terencana pada keluarga, maka akan membentuk perilaku remaja ataupun individu keluarga yang berkomitmen dalam menyiapkan segala kebutuhan lahir dan bathin untuk membahagiakan orang yang dicintainya, yakni pasangan hidupnya dan anaknya kelak.

Beberapa prinsip yang digunakan dalam Cinta Terencana; mencintai diri sendiri, pasangan, keluarga, bangsa dan negara.

Cinta Terencana percaya bahwa rasa cinta adalah elemen yang dimiliki seluruh manusia yang mendorong setiap generasi dari mulai balita, remaja, dewasa dan lansia untuk saling menjaga dan tumbuh bersama. Dengan cinta yang terencana merupakan kunci keberhasilan menggapai cita-cita dan meraih masa depan cemerlang.

Cinta Terencana bertujuan menyegarkan kembali ingatan masyarakat Indonesia bahwa keluarga merupakan kekuatan utama dalam menumbuhkan rasa cinta tanah air dan merencanakan masa depan yang gemilang.

Aspek yang lebih luas berusaha untuk menggalang optimisme masyarakat untuk menyambut bonus demografi demi Indonesia Emas 2045 dengan mengoptimalkan 8 fungsi keluarga juga melibatkan 4 program substansi GenRe (Generasi Remaja) untuk menumbuhkan semangat revolusi mental yang dimulai dari unit terkecil yaitu keluarga.

4 substansi GenRe tersebut antara lain:

1.      Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.
2.      Kesehatan reproduksi remaja.
3.      Keterampilan hidup (kecakapan hidup atau pengembangan diri).
4.      Perencanaan Kehidupan Berkeluarga.


Dalam kampanye ini menanggapi poin yang keempat, BKKBN menjadikan keluarga sebagai tujuan utamanya. Ibu Eka Sulistya Ediningsih selaku Direktur Bina Keluarga Remaja BKKBN menjelaskan bahwa ada tiga alasan.

Pertama, itu karena keluarga adalah unit terkecil dalam setiap masyarakat. Sebelum seseorang beranjak dewasa dan terjun ke masyarakat, sudah pasti seseorang berada dalam lingkungan keluarga terlebih dahulu.

Kedua, keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kualitas bangsa. Jika ada orang yang melakukan kejahatan dan tindak kriminal, lihatlah latar belakangnya. Bukan tidak mungkin hal itu disebabkan karena abainya peran keluarga semasa kecil. Jika ada seseorang yang melakukan kebaikan, lihatlah pula latar belakangnya. Sudah dipastikan itu karena adanya peran keluarga di dalamnya. Intinya, bagaimana perilaku seseorang tak terlepas dari bagaimana keluarga memberikan warna dalam kehidupannya.

Ketiga adalah keluarga menjadi fondasi penting dari maju atau tidaknya suatu bangsa. BKKBN percaya bahwa anak yang lahir dan besar dari keluarga yang sehat jasmani rohani, sejahtera dan berkualitas, sudah dipastikan mereka dapat berkontribusi dalam kemajuan suatu bangsa ketika dewasa nanti.

Sedikit nostalgia Ibu Eka menambahkan bahwa konsep keluarga bahagia tercermin pada sinetron masa silam yaitu Keluarga Cemara. Meski hidup dalam kekurangan finansial (keterbatasan ekonomi) namun tak menjadi penghalang Abah dan Emak dalam memberi kasih sayang, panutan dan rasa memiliki di dalam keluarga kepada anak-anaknya Euis, Ara dan Agil. Selalu merasa aman, terlindungi dan hangat.

Sayangnya, keluarga yang terencana tidak semulus yang dibayangkan. Maraknya pernikahan dini yang terjadi menjadi salah satu tantangan. Oleh karena itu BKKBN turut melibatkan blogger sebagai corong informasi dalam menyosialisasikan betapa sebaiknya masyarakat menghindarkan diri dari praktek pernikahan dini karena kerap berisiko memiliki masalah. Miris apabila melihat para remaja di bawah umur tapi sudah menikah dan cepat memiliki anak? Padahal di usia mereka yang masih beliau seharusnya diisi dengan belajar dan bermain bersama dengan teman-temannya.

Kemudian bagaimana kalau pernikahan dini sudah kadung terjadi? BKKBN meminta pasangan yang telah memiliki anak untuk menyayangi dan merawat anak yang telah dilahirkan tersebut dengan sepenuh hati. Selain itu BKKBN juga meminta kepada mereka untuk menjaga jarak kelahiran dengan rentang waktu minimal 3 tahun. Itu dikarenakan jika jarak kelahiran antara anak yang satu dan satunya lagi terlalu dekat maka berpengaruh pada kurangnya perhatian yang diberikan kepada anak yang lahir lebih dahulu.

Kriteria menikah di usia yang ideal yaitu wanita di atas usia 21 dan pria di usia 25. Kenapa dianjurkan menikah di usia tersebut? Sebab di atas usia 35 tahun organ reproduksi wanita mengalami perlambatan atau tidak seproduktif dahulu lagi.

Setelah itu, yang kedua Kak Resi Prasasti selaku pendiri dari Blogger Plus memberikan presentasinya. Kali ini ia berbagi tips kepada para blogger tentang menulis. Kenapa? Hal itu dikarenakan keberhasilan kampanye Keluarga Terencana juga tak terlepas dari kontribusi para blogger saat menulis. Sebelumnya tentukan tujuan sebelum menulis juga menjadi fokus utama. Dalam materi yang ia isi tersebut Kak Resi menekankan betapa pentingnya branding bagi rekan blogger sebab hal ini akan menjadi identitas.

Sesi yang terakhir last but not least adalah sesi Mbak Roslina Verauli. Mbak Uli adalah seorang psikolog sekaligus penulis buku dan pembawa acara dalam program televisi bertajuk Cerita Perempuan pada 2015-2017. Mbak Roslina membagikan kiat tentang bagaimana membangun keluarga sehat dan terencana.

Psikolog keluarga Mbak Roslina Verauli

Para peserta yang hadir diajak untuk mengikuti sebuah permainan untuk menguji seberapa jeli pengetahuan kita terkait tentang pasangan dan hubungannya.

Menurut Roslina, nikah itu sebaiknya jangan terburu-buru, tapi juga jangan terlalu matang. Tanya kenapa. Karena jika seseorang menikah dalam usia yang terbilang muda atau terlanjur tua dapat menimbulkan masalah di kemudian hari.

Aplikasi Kahoot (dok. Playstore)

Usia menikah yang terlalu muda terbilang rentan karena secara psikologis belum siap. Begitu pun jika seseorang yang menikah berada pada usia di kisaran 30 tahun atau lebih, pernikahan tersebut juga berisiko terkena masalah karena mereka merasa lebih independen dengan keputusannya dan dikhawatirkan tidak dapat mengerem opini pribadi masing-masing individu.

Usia 20-an adalah usia yang tepat untuk menikah. Tapi kalau ada yang ingin terburu-buru ingin menikah padahal belum menginjak angka 20 tahun, sebaiknya menunggu hingga usia 18 tahun baru diperbolehkan untuk menikah.

Mbak Ros juga menjelaskan bahwa jika kita ingin membangun keluarga terencana, dimulai dengan motif yang positif (karena cinta, ingin punya keturunan dan ingin memiliki teman hidup). Sebab jika diawali dengan motif negatif, seperti ingin balas dendam atau ingin punya jabatan tidak akan memberikan output yang baik. Jika kita sudah siap membangun keluarga, maka jalanilah secara eksklusif. Sejatinya sebab itulah kunci utama kita dengan pasangan.

Bagaimana caranya membangun keluarga yang bahagia, sejahtera dan stabil? Mbak Ros memberikan tips-tipsnya, antara lain adalah harus fleksibel, kohesi alias adanya kedekatan dan tentu saja komunikasi. Jika kita menerapkan ketiga hal tersebut di dalam keluarga, dijamin kualitas keluarga yang terjalin akan lebih baik.

Membangun keluarga bukan semata-mata saling cinta dan sayang, melainkan bagaimana kedua belah pihak dapat menyisihkan perbedaan, menyatukan visi dan misi bersama, saling menjaga satu sama lain serta menghadapi badai yang menghadang secara bersamaan.

Mengaca pada diri sendiri sudah siap memiliki cinta terencana untuk membangun keluarga yang berkualitas?

Sebelum menutup perjumpaan usai acara diakhiri dengan sesi foto bersama serta ramah tamah antara para narasumber, peserta yang hadir dan seluruh panitia acara.

Narsis dulu guyss. Cheers!!

Tidak lupa untuk menebarkan semangat terencana dengan yel-yel andalan dari BKKBN.

"Salam Genre yang seperti salam Oke oce.
Genre: Sehat, cerdas dan ceria
Genre Indonesia: Saatnya yang muda berencana!!"

Komentar

Postingan Populer