Menyingkap sejarah Republik Azerbaijan: "Dari lezatnya Dolma hingga campur tangan Armenia"

Wilayah yang dijadikan konflik senjata oleh Armenia atas Azerbaijan
Republik Azerbaijan (bahasa Azeri: Azrbaycan Respublikas) adalah sebuah negara di Kaukasus yang terletak di persimpangan Eropa dan Asia Barat Daya. Berbatasan dengan Rusia di sebelah utara, Georgia dan Armenia di bagian barat, dan Iran di selatan (wikipedia.org). Mayoritas populasinya adalah Muslim Syiah dan turunan Turki barat, orangnya dikenal sebagai Azerbaijani, atau penduduknya disebut Azeri. Negara ini berbentuk Republik dan sistem pemerintahannya adalah demokrasi dengan peraturan yang terotoritasi kuat. Pada tahun 1873, sumber daya alam berupa minyak ("emas hitam") ditemukan di kota Baku, yang merupakan cikal bakal ibu kota Azerbaijan. Dari awal abad ke-20 hampir separuh cadangan minyak dunia negara ini disuling di kota Baku.
Sejarah Kemerdekaan Azerbaijan
Sejarah kelam dan perjuangan Azerbaijan meraih kemerdekaan sungguh berliku. Secara historis Azerbaijan telah dilindungi banyak bangsa dunia, termasuk bangsa Persia, Yunani, Romawi, Armenia, Arab, Turki, Mongol dan Rusia. Perjuangan dalam merebut kembali kedaulatan atas negara tersebut singkatnya secara tak terduga diawali pada tahun 1990 dimana orang-orang Azeri berkumpul untuk memprotes kekuasaan Soviet dan menuntut kemerdekaan atas tanah mereka. Tetapi secara brutal demonstrasi tersebut malah ditunggangi oleh campur tangan Soviet dalam peristiwa "Januari Hitam". Barulah pada tahun 1991, Azerbaijan berhasil memproklamirkan kemerdekaannya saat kekuasaan Uni Soviet jatuh atas Jerman.
Tidak berhenti di situ saja perjuangan Azerbaijan melawan pendudukan negara lain belumlah usai. Manakala di tahun-tahun pertama sedang mencicipi nikmatnya kemerdekaan tapi justru kembali direnggut dengan perang terhadap negara tetangganya sendiri yaitu Armenia dan gerakan separatis Armenia atas kawasan Nagorno-Karabakh. Meski ada gencatan senjata di tempat sejak tahun 1994, konflik Azerbaijan dengan Armenia belum juga terpecahkan atas wilayah yang didominasi orang Armenia tersebut.

Sejak akhir perang, Azerbaijan kehilangan kendali sekitar 14 - 16% wilayahnya termasuk Nagorno-Karabakh sendiri. Akibat konflik tersebut kedua negara menghadapi masalah serius seperti pengungsian dan orang telantar serta resesi ekonomi. Namun, mantan pemimpin Azeri Soviet Heydr liyev mengubah tatanan perekonomian di Azerbaijan dan mulai mengeksploitasi wilayah Baku yang kaya akan cadangan minyaknya, hingga akhirnya Azerbaijan terkenal seperti saat ini. Heyder Eliyev juga dinilai mampu membersihkan praktik perjudian dan dapat menekan angka pengangguran di negaranya.
Beliau juga menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Turki terkait pengambilan langkah damai atas konflik yang terjadi di Karabakh dengan Armenia. Namun, keadaan politik di Azerbaijan tetap tegang khususnya setelah Heydar Aliyev wafat. Tampuk kepemimpinan Azerbaijan diberikan pada putranya Ilham Aliyev dan otomatis secara langsung menyandang jabatan sebagai Presiden. Kekuatan oposisi Azeri tak puas dengan pergantian dinasti ini dan menuntut pemerintahan yang lebih demokratis. 
Kondisi terkini paska gencatan senjata
Dokumentasi azernews.azMeskipun keduanya sudah mengadakan perjanjian penghentian gencatan senjata, namun bukan berarti konflik berhenti begitu saja. Di dalam wilayah Nagorno Karabakh konflik senjata antara pasukan Armenia dengan Azerbaijan masih terus terjadi. Pasukan Armenia banyak melakukan pelanggaran kemanusiaan terhadap warga Azerbaijan, tindakan ini banyak dikecam oleh masyarakat internasional.
Azerbaijan adalah negara sekuler dan telah menjadi anggota dari Dewan Eropa sejak 2001. Pada tanggal 25 Januari 2005, Uni Eropa lewat Parliamentary Assembly of the Council of Europe mengeluarkan Resolusi 1416 yang berisikan perintah kepada Armenia untuk menghentikan tindakan ethnic cleansing (pembersihan etnis) terhadap warga Azerbaijan dan berhenti menduduki wilayah Azerbaijan.
Tindakan Uni Eropa ini diikuti pula oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI). Dewan Menteri Luar Negeri OKI dalam pertemuan tahunan pada 15-17 Mei 2007 mengeluarkan resolusi No. 7/34-P yang berisikan perintah agar Armenia berhenti menempati wilayah Azerbaijan, berhenti melakukan agresi terhadap Azerbaijan, berhenti melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap warga Azerbaijan, dan berhenti melakukan penghancuran terhadap benda cagar budaya, dan tempat-tempat keagamaan di wilayah yang menjadi rebutan.
Selanjutnya pada pertemuan OKI di Dakar tanggal 13-14 Maret 2008, OKI kembali mengeluarkan Resolusi No. 10/11-P (IS) yang isinya hampir sama dengan resolusi sebelumnya. Resolusi OKI ini juga didukung oleh PBB, lewat Sidang Majelis Umum pada tanggal 14 Maret 2008, PBB mengeluarkan Resolusi No.62/243 yang berisi perintah kepada Armenia untuk segera meninggalkan wilayah Azerbaijan yang dicaplok secara sepihak dan mengembalikannya kepada Azerbaijan tanpa syarat dan secara utuh. 
Kemudian pada bulan Agustus 2008, AS, Perancis dan Rusia mengadakan perundingan upaya penyelesaian konflik secara penuh. Ketiganya mengusulkan untuk diadakan referendum di wilayah sengketa. Kuatnya desakan masyarakat internasional ini membuat Presiden Armenia, Serzh Sarkisian dan Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev untuk mengadakan pertemuan di Moskow. Pertemuan tersebut dilaksanakan pada tanggal 2 November 2008 dengan dimediasi oleh Dmitry Medvedev, pertemuan tersebut menghasilkan sebuah deklarasi bersama tentang komitmen untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut. Keduanya akan mengadakan pertemuan lagi di Rusia tepatnya di kota Saint Petersburg.
Pada tanggal 22 November 2009, Presiden Azerbaijan, Presiden Armenia dan beberapa pemimpin negara lainnya berkumpul di Munich untuk melakukan pembicaraan upaya perdamaian di Nagorno Karabakh. Presiden Aliyev sempat mengancam akan menggunakan kekuatan militer untuk merebut kembali Nagorno Karabakh jika pembicaraan tersebut tidak berhasil.
Pembicaraan yang selalu mengalami jalan buntu membuat perjanjian gencatan senjata pun pecah dan mengakibatkan pertempuran antara kedua belah pihak. Pada tanggal 18 Februari 2010 dilaporkan tiga tentara Azerbaijan dan satu terluka dalam pertempuran. Pertempuran sempat berhenti namun pada bulan November kembali berkobar karena seorang penembak jitu Armenia secara sengaja memancing pertempuran dengan menembak pasukan Azerbaijan. Penembak jitu Azerbaijan membalas dengan menembak pasukan Armenia, pertarungan antar penembak jitu ini menewaskan 12 orang dari kedua belah pihak.
Sekjen PBB, Ban Ki Moon menyerukan agar semua penembak jitu ditarik dari wilayah sengketa agar tidak membuat resah. Masalah tidak juga selesai, Juru Bicara Departemen Pertahanan Azerbaijan, Letnan Kolonel Eldar Sabiroglu melaporkan bahwa pasukan Armenia masih sering menggunakan senapan mesin dan pelontar granat untuk memancing penyerangan. Berbagai usaha telah dilakukan oleh masyarakat Internasional namun hingga kini belun ada satu pun langkah nyata atau Resolusi dari PBB, OKI hingga Uni Eropa yang berhasil dilaksanakan.  
Entah akan sampai kapan kah konflik kedua negara ini akan berakhir?
Ibarat teori pensil terbalik. Runcing di bawah tapi tumpul di atas. Sulit untuk dipertemukan dan mencapai kesepakatan.
Secara perlahan yang terjadi kini Armenia terus melakukan tindakan kecurangan dan diam-diam mencomot apa yang dimiliki oleh Azerbaijan. Padahal pemerintah Azerbaijan sendiri menjunjung tinggi hak-hak warga negaranya. Sumber daya alam dan seisinya dimiliki oleh negara dan digunakan semata-mata demi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya.
Banyak aktivitas ekonomi dan kegiatan ilegal lainnya yang dilakukan Armenia kepada Azerbaijan yang justru digunakan untuk membiayai kelompok separatis dan melanjutkan pendudukan wilayah teritori Azerbaijan demi mempersenjatai pasukan Armenia dalam upaya konflik bersenjata, antara lain eksploitasi sumber daya alam dan perdagangan, sistem energi, pencomotan jaringan telekomunikasi dan frekuensi radio, pendudukan sektor perbankan, yang dimiliki oleh Azerbaijan, pendirian pemukiman serta pengubahan demografi dan infrastruktur oleh Armenia, penghancuran dan upaya mengubah karakter dan warisan budaya Azerbaijan dan pengakuan sepihak atas destinasi wisata yang dimiliki oleh Azerbaijan.
Banyak upaya yang telah dilakukan oleh Azerbaijan demi mempertahankan kedaulatan negaranya. Supaya kepemilikan Azerbaijan atas negaranya sah dan diakui secara internasional. Salah satunya dengan pendidikan dan budayanya. Pendidikan begitu penting untuk membangun peradaban serta diplomasi hubungan bilateral dan multilateral antar negara dalam upaya mengangkat harkat dan martabat bangsa demi terwujudnya perdamaian dunia. Budaya juga turut berperan andil sebab menjadi penanda identitas suatu negara. Sebagai contoh makanan khas dari Azerbaijan.
Mencicipi Kuliner Azerbaijan
Dolma (dok. Culinary world)
Belum lengkap rasanya apabila berkunjung ke suatu negara jika belum mencicipi kuliner khas dari daerah setempat.
Masakan Azerbaijan (bahasa Azerbaijan: Azrbaycan Mtbxi, ) mengacu pada gaya memasak dan hidangan bangsa Azeri di Republik Azerbaijan dan Azerbaijan (Iran). Masakan negara ini memiliki banyak kesamaan dengan Masakan Iran dan Turki. Banyak makanan yang berasal dari Azerbaijan kini dapat dilihat dalam masakan negara tetangga. Bagi bangsa Azerbaijan, makanan merupakan bagian penting dari budaya mereka dan berakar dalam sejarah, tradisi dan nilai-nilai mereka.

Dari sebelas zona iklim yang dikenal di dunia, Azerbaijan memiliki sembilan iklim. Hal Ini mempengaruhi kesuburan tanah yang ikut menghasilkan kekayaan bumbu masakan dari Azerbaijan terutama rempah-rempah.

Dolma
Makanan tradisional khas berikut ini bentuknya sekilas mirip dengan lemper atau buntil di Indonesia. Bedanya jika di sini bungkusnya tidak bisa ikut dimakan. Sedangkan di Azerbaijan justru dimakan bersamaan dengan daun yang membungkusinya.
Dolma tidak hanya produk kuliner asal negeri Azeri saja tetapi juga dikenali sebagai kekayaan dunia yang memiliki nilai sejarah dan tradisi yang kental. Dolma masuk ke dalam daftar warisan budaya tak benda yang telah diakui secara sah oleh UNESCO.
yarpaq dolmasi (dok. Ministry of Culture and Tourism of Azerbaijan)Tradisi Dolma merupakan seperangkat pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan persiapan makanan tradisional 'dolma', yang berbentuk bungkusan kecil (berisikan daging domba, bawang bombay, nasi, kacang polong dan rempah-rempah) yang dibungkus daun anggur segar yang dimasak setengah matang atau biasanya disajikan dengan perasan buah lemon dan pelengkap sayuran yaitu tomat dan daun mint. Penamaan tradisi dolma sendiri berasal dari kata 'doldurma' yang artinya pendek, menyerupai 'boneka'. Sudah menjadi tradisi turun temurun sejak dahulu apabila dolma dinikmati secara bersama-sama dalam keluarga atau masyarakat setempat. Masing-masing daerah memiliki metode, teknik dan bahan yang digunakan untuk menyiapkan makanan tradisional tersebut dengan caranya yang berbeda. Tradisi ini hadir di seluruh Republik Azerbaijan, dan dianggap sebagai hidangan utama di semua wilayah. Menu ini biasanya dinikmati pada acara tertentu atau pertemuan khusus. Tak hanya lezat tapi dolma ternyata memiliki makna yang filosofis dimana merupakan bentuk ungkapan solidaritas, rasa hormat dan keramah-tamahan bangsa Azeri di Azerbaijan. Hal ini diharapkan akan terus ditularkan dari generasi ke generasi dan tak terbatas oleh kepentingan etnis dan agama apapun di negara ini. Awalnya dolma dibuat oleh sekelompok orang yang piawai dalam memasak makanan tradisional saja dan umumnya wanita. Seiring berkembangnya zaman masyarakat luas lalu mengenal dolma sebagai simbolisasi untuk kepentingan budaya dan sosial yang kuat. Tradisi ini secara estafet dipraktikkan di dalam kehidupan sehari-hari melalui hubungan orang tua dan anak, sementara di luar rumah tradisi tersebut secara formal diajarkan terutama di sekolah-sekolah kejuruan dan kegiatan praktik magang. Unsur ini memiliki tujuan yang luhur dan visi besar dalam masyarakat Azerbaijan demi berlangsungnya kehidupan yang harmonis di tengah-tengah masyarakat. Besar harapan pemerintah Azerbaijan terus melanjutkan tradisi ini melalui berbagai kegiatan, festival, dan acara-acara sekolah.
Seandainya saja Armenia paham betul konsep dan makna di balik makanan tradisi Dolma ini. Apalagi mau berkumpul untuk makan bersama. Bukan tidak mungkin kedua negara ini dapat hidup tenang dan rukun saling berdampingan satu sama lain. Sebab sejatinya Armenia sama seperti Turki dan Georgia masih dalam kawasan satu rumpun.
Akhir kata terima kasih. Wassalam!
Make world peace for better future in human race
Referensi
1. Ministry of Culture and Tourism of Azerbaijan, 2016
2. Foreign Ministry of Azerbaijan, 2017
3. Ministry of Economy of Azerbaijan, 2017
4. Https://www.mfa.gov.az/
5. Https://ich.unesco.org/
6. Https://id.wikipedia.org/
7. Https://id.wikimedia.org/
8. Https://azernews.az/
9. Https://en.trendz.az/

Komentar

Postingan Populer